Jelang Pilkades Klaten: Cakades Begadang hingga Tahajud Bersama Pendukung

ilustrasi pilkades, pemilihan kepala desa. (Solopos/Whisnu Paksa)
12 Maret 2019 21:35 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sejumlah calon kepala desa (cakades) melakukan persiapan khusus menjelang pemungutan suara pilkades serentak Klaten yang digelar Rabu (13/3/2019). Persiapan itu mulai dari koordinasi dengan tim pemenangan, begadang, hingga menggelar doa bersama.

Seperti yang dilakukan Zainudin Senoaji, salah satu Cakades Candirejo, Kecamatan Ngawen. Ia memilih mengisi masa tenang menjelang pencoblosan dengan menggelar doa bersama. Selain itu, ada kegiatan khataman.

“Ada kegiatan tahajud bersama nanti malam [Selasa, 12/3/2019],” kata Zainudin saat dihubungi Solopos.com, Selasa (12/3/2019).

Persiapan lain yakni koordinasi dengan tim dan pendukungnya. Koordinasi tersebut salah satunya terkait penjemputan para manula serta warga lansia dari rumah mereka ke tempat pemungutan suara (TPS), Rabu.

“Penjemputan itu ide dari pendukung dan kendaraan yang menyiapkan mereka. saya sendiri hanya manut warga. Nanti ada pendampingan dari tim sukarelawan,” kata dia.

Soal politik uang, Zainudin menegaskan ia tak menggunakan cara tersebut untuk meraih suara. Ia beralasan tak menggunakan politik uang lantaran untuk pendidikan politik ke warga.

“Pendidikan kepada masyarakat bahwa segala pencalonan baik pilpres, pileg, atau pilkades politik uang harus dihindari dan dilarang. Karena dengan uang justru menjerumuskan para calon,” tutur dia.

Sementara itu, salah satu Cakades di Bumiharjo, Kecamatan Kemalang, Agus Marwan Sugondo, mengaku melakukan persiapan dengan menjaga kondisi tubuh. “Saya juga memberikan imbauan kepada warga harus menggunakan hak pilihnya jangan sampai golput dan agar membuat pilkades ini adem ayem,” kata dia.

Ia mengaku melakukan persiapan khusus menghadapi pilkades. Persiapan itu yakni menggelar kenduri serta begadang.

“Saya mengadakan kendurian dan sore ini [Selasa] sampai besok seluruh proses di tempat pencoblosan selesai saya harus kuat tidak tidur. Itu saja. Sebagai bentuk prihatin untuk mendapatkan keberhasilan,” katanya.

Disinggung politik uang, Agus mengaku tak melakukan hal tersebut. Ia juga menyatakan memberikan uang untuk mendapatkan suara tak memberikan pendidikan politik kepada warga. “Kalau ada yang melakukan, ya diserahkan saja ke yang berwajib,” tutur dia.

Salah satu calon di Pilkades Mundu, Kecamatan Tulung, Ari Koeswanto, mengatakan menjelang hari pencoblosan ia sekadar melakukan pertemuan dengan kader dan pendukung. “Selama masa tenang tidak mengerahkan massa dan tidak kampanye. Sekadar koordinasi saja. Biarkan masyarakat dewasa dan menggunakan hak pilih sesuai hati nuraninya,” kata Ari.

Ari merupakan salah satu anggota DPRD Klaten periode 2014-2019. Ia tak kembali maju menjadi calon anggota legislatif lantaran ingin maju menjadi kades. Alasannya tak lagi maju menjadi caleg lantaran ia menilai peran DPRD saat ini kurang leluasa sementara UU Pemilu diubah.

“Kalau mau berkarya ya menjadi kades atau kepala daerah,” kata dia.

Kabid Penataan dan Administrasi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Klaten, M. Mujab, mengatakan para cakades wajib datang di tempat pemungutan suara (TPS) hingga proses penghitungan suara rampung.

Jika cakades tak datang ke TPS tanpa alasan yang jelas, perolehan suaranya dianggap tidak sah. “Kalau ada alasan yang jelas disertai pemberitahuan kepada pantia dan alasannya bisa dimaklumi panitia masih memungkinkan cakades tidak datang. Kalau tidak datang tanpa alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, perolehan suaranya dianggap tidak sah,” katanya.

Soal warga yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) berdomisili di desa pelaksana pilkades, Mujab menjelaskan warga bisa menggunakan hak pilih selama masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT).

“Sistemnya berbeda dengan pemilu yang bisa memilih selama menunjukkan e-KTP. Kalau tidak masuk dalam DPT, warga tidak bisa menggunakan hak pilihnya,” kata dia.