Pasar Burung Nglano Karanganyar Kok Sepi, Kenapa Ya?

Seorang pengujung memarkirkan sepeda motor di depan pintu Pasar Burung Nglano, Jumat (8/3/2019). Pintu pasar sempit sehingga pasar burung tidak begitu tampak dari luar. - Wahyu Prakoso
12 Maret 2019 00:35 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pagar sisi utara pasar Nglano dipasangi pintu sejak dua pekan terakhir oleh Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disdagnakerkop UKM) Karanganyar. Dengan pintu tersebut diharapkan pengunjung Pasar Burung Nglano akan banyak.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, hanya ada tujuh dari 28 kios pasar burung yang membuka kios, Jumat (8/3/2019). Kios yang buka itu tiga kios pedagang pakan burung, satu kios pedagang kelontong, satu kios penjahit, satu kios permainan, dan satu kios kuliner.

Salah satu pendagang pakan burung di Pasar Burung Nglano, Sunarno, 53, mengatakan, semenjak dibuka akses pintu, kondisi pasar sama dengan sebelum dipasang pintu. Dia mengaku pasar Nglano ramai ketika hari Pon dan Kliwon saja.

“Pedagang mintanya dibuka lebar untuk lalu lalang orang dan pengguna jalan bisa melihat pasar burung. Namun yang dibuka hanya selebar 1,5 meter saja,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di kiosnya.

Senada dengan Sunarno, salah satu pedagang burung, Heri, 37, menjelaskan pintu yang dibangun terlalu sempit. Dia mengatakan, lebih memilih berjualan di bawah pohon, tepatnya di sisi utara kios pasar bersama dua orang pedagang burung lainnya kerena masih ada pembeli di tempat tersebut.

“Akses pintu belum layak, sepeda motor bawa bronjong engga bisa. Pengguna jalan juga tidak dapat melihat secara penuh pasar burung. Kalau kami menetap di kios pasar, kami rugi karena setiap hari pasti kehilangan biaya sebesar Rp50.000 untuk pakan burung dan tidak ada pembeli,”kata dia.

Heri mengatakan pedagang burung di pasar itu jumlahnya terus berkurang disebabkan sepinya pengunjung. Dia berharap dibuatkan tempat yang terbuka supaya pengguna jalan mengetahui pasar burung tersebut.

“Saat pasar diresmikan dua tahun lalu, ada 20 pedagang burung yang terdaftar. Pedagang berkurang karena pembeli dari warga sekitar Tasikmadu saja. Kami pun pindah berjualan di pinggir jalan, ada sembilan pedagang burung. Hasilnya lumayan karena pembeli dari luar kota bisa mampir, tetapi berjualan di sana dilarang. Kini tinggal bertiga saja yang berjualan di utara kios dan dua pedagang yang masih menetap di kios,” ujar Heri.

Kepala Disdagnakerkop UKM Karanganyar, Waluyo Dwi Basuki, menjelaskan pintu Pasar Burung Nglano dipasang pada pertengahan Februari 2019 dengan harapan pengguna jalan dapat melihat pasar burung tersebut. Dia akan membangun gantangan di sekitar pintu tersebut.

“Supaya representatif, ada pasar burung. Sudah ada rencana pembangunan pada April 2019. Kami juga adakan program latihan burung dan kompetisi burung supaya menarik minat penggemar burung,”katanya kepada Solopos.com.