Warga Buang Sampah Sembarangan, Ingin Tahu Akibatnya?

Sampah di TPS di Dukuh Bulu, Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Karanganyar, yang menutup jalan desa dikeruk ekskavator dan dimasukkan ke truk, Sabtu (9/3/2019). - Dok. Kecamatan Jaten
12 Maret 2019 13:40 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di Dukuh Bulu, Desa Jaten, Kecamatan Jaten, Karanganyar overload hingga menutup jalan penghubung Dusun Josroyo dan Perumahan Loh Agung III, Sabtu (9/3/2019).

Persoalan sampah disebabkan pengambilan sampah dari TPS tidak sebanding dengan volume sampah yang dibuang warga ke tempat itu. Berdasarkan pantauan Solopos.com, sampah memenuhi jalan menuju TPS sepanjang kurang lebih 50 meter. Empat truk pengangkut sampah antre di Jl. Sawahan untuk mengangkut tumpukan sampah. Satu ekskavator mengeruk sampah untuk dimasukkan ke bak truk. Satu ekskavator lainnya tidak beroperasi karena rusak.

Salah satu pedagang yang berjualan di utara TPS, Andi Cahyono, 37, mengatakan semenjak dibangun TPS jumlah sampah semakin banyak hingga meluber menutupi jalan. Dia menutup bisnis kulinernya karena bau sampah yang menyengat.

“Sudah satu bulan terakhir saya tidak berjualan makanan. Saya hanya membuka toko kelontong saja. Saya dan istri tidur di sini, kalau hujan bau sampah bikin pusing. Tumpukan sampah tersebut sangat merugikan,”kata dia kepada Solopos.com saat ditemui di lapaknya.

Andi mengatakan sering menjumpai warga dari desa lain membuang sampah di TPS tersebut. Dia menjelaskan warga Desa Jaten sering menegur orang yang membuang sampah sembarangan di TPS tersebut.

Ketua RW 023 Desa Jaten, Sulistyo Winarno, mengatakan sudah mendatangi kantor desa supaya menangani tumpukan sampah tersebut pada Selasa (5/3). Menurut dia, sampah yang diangkut truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar tidak seimbang dengan jumlah sampah masuk ke TPS sehingga setiap tiga bulan sekali sampah meluber hingga jalan.

“Sehari hanya ada satu truk sampah yang mengangkut sampah dari TPS, kalau tanggal merah libur. Sedangkan setiap hari sampahnya masuk terus, jumlahnya lebih banyak. Kami setiap bulan membayar Rp500.000 untuk petugas kebersihan,” kata dia.

Sekretaris Desa Jaten, Andi Almaududi, mengatakan setelah mendapatkan laporan warga pihaknya langsung ke Kantor DLH untuk meminta bantuan. Dia menjelaskan untuk membersihan sampah di TPS itu gratis, pihak desa hanya diminta menyediakan ekskavator untuk mengeruk sampah pada Sabtu (9/3).

“Sering terjadi penumpukan karena kurangnya pengawasan pada TPS. TPS tersebut dibangun untuk warga Desa Jaten, khususnya untuk sembilan RW saja karena kami sudah memiliki beberapa lokasi TPS. Namun, pada praktiknya banyak warga dari desa lain yang membuang ke tempat tersebut,”kata dia.

Andi menjelaskan, penambahan kendaraan pengangkut sampah di TPS tidak bisa dilakukan karena pihak DLH menyediakan armada sesuai dengan retribusi yang dibayarkan oleh warga. Dia mengaku, dari sembilan RW yang memakai TPS hanya lima RW yang membayar retribusi.

“Semua warga belum mau membayar retribusi karena sebagian warga mengolah sampahnya sendiri dengan dibakar. Bahkan, salah satu RW yang tadinya membayar retribusi sekarang berhenti karena kecewa dengan tumpukan sampah tersebut,” ungkap dia.

Andi menjelaskan, Pemdes sedang menyiapkan BUM Desa untuk menangani persoalan sampah. Pihaknya akan menyediakan armada dan sumber daya manusia untuk mengambil sampah-sampah dari rumah warga dengan retribusi yang lebih murah. Dia berharap, warga Desa Jaten membuang sampah tidak sembarangan pada akses jalan dan warga luar Desa Jaten tidak membuang di TPS tersebut.