Kantin UNS Solo Lama Tak Buka, Mbok Jum Sempat Dikira Pergi Umrah

Jenazah Mbok Jum dibawa dari rumah duka di Jebres, Solo, ke permakaman, Rabu (13/3/2019). (Solopos - Sunaryo Haryo Bayu)
13 Maret 2019 14:35 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Suasana haru dan isak tangis mengiringi pemakaman Djumiyati, ibu kantin UNS Solo yang legendaris, Rabu (13/3/2019). Perlahan, peti jenazah yang diusung warga berbaju hitam keluar dari rumah perempuan yang akrab disapa Mbok Jum itu.

Iring-iringan peti jenazah diikuti para pelayat yang sudah berkerumun hingga ruas Jl. Surya, Panggungrejo, Jebres, menuju mobil ambulans. Tak hanya dari Solo, para pelayat berdatangan dari berbagai daerah.

Lurah Jebres dan beberapa alumni serta mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dari beragam fakultas juga datang ke rumah duka. Duka mendalam dirasakan seluruh civitas akademika Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo atas meninggalnya Djumiyati alias Mbok Jum yang meninggal di usia 67 tahun.

Mbok Jum yang dikenal luas oleh civitas akademika, alumni dan mahasiswa UNS sebagai pengelola kantin legendaris di kampus tersebut meninggal dunia pada Rabu pukul 02.15 WIB di RSUD dr. Moewardi Solo. Mbok Jum meninggal karena penyakit diabetes yang sudah lama dideritanya.

Di kalangan alumni UNS, Mbok Jum dikenal sebagai sosok pekerja keras yang sangat baik hati. Sebelum berangkat ke kantin UNS, ia selalu memastikan semua barang kebutuhan tak ada yang tertinggal.

“Semangatnya luar biasa. Ia bersedia memberikan utangan kepada pelanggan yang mengaku tidak punya uang. Saya kuliah tahun 1990. Beberapa mahasiswa angkatan saya selalu jujur bilang minta utang dulu untuk makanan yang dibeli,” ujar Joko Suseno, Guru SMPN 3 Sukoharjo, yang ditemui Solopos.com di rumah duka, Rabu.

Joko pernah mengadakan reuni alumni UNS. Saat itu, Mbok Jum hadir dalam reuni tersebut. Beberapa alumni memberikan uang kepada Mbok Jum senilai Rp1 juta.

“Kami dulu ingat semasa kuliah mau makan tetapi tak punya uang. Sebelum makan saya menghampiri Mbok Jum kalau tak punya uang. Saat itu saya ingat sekali raut muka Mbok Jum. Ia tersenyum dan memberikan piring berisi nasi pecel dan telur dadar,” ujarnya.

Joko bersama alumni UNS lainnya mendapatkan kabar meninggalnya Mbok Jum dari sosial media. “Saya bisa datang layat karena membaca berita online. Keterangan dari anaknya beliau meninggal karena sakit diabetes. Kantin sudah tutup sekitar dua pekan,” ujarnya.

Joko mengaku rindu dengan Kantin Mbok Jum yang menyediakan berbagai makanan dengan harga murah. “Menu makananya sebenarnya biasa seperti pecel, gudeg sambel goreng, soto, nasi urap, aneka lauk, dan minuman. Tetapi sosok Mbok Jum ini tidak saya temui di kantin lainnya,” ujarnya.

Mahasiswa FISIP UNS Solo, Rendy Gumawa, mengaku kaget mendengar kabar pemilik kantin legendaris Mbok Jum meninggal. “Kantin sudah lama tidak buka. Saya kira Mbok Jum sedang umrah. Tadi pagi dapat kabar beliau meninggal, saya langsung menuju rumah duka. Saya adalah pelanggan kantin tersebut. Saya sering sekali makan di sana karena harganya cukup bersahabat,” ujarnya.

Sejak Sabtu (2/3/2019), Mbok Djum pemilik kantin UNS, menjalani perawatan di RSUD dr. Moewardi, Solo. Mbok Jum mempunyai riwayat diabetes atau sakit gula. Kondisi Mbok Jum sempat memburuk lantaran tangan kanannya mulai membusuk dan harus diamputasi.

Akhirnya Senin (11/3/2019) Mbok Jum harus menjalani amputasi karena kondisi tangan sebelah kanan mulai memburuk. Anak angkat Mbok Djum, Ana Ambar Wati, 32, mengaku sejak masuk rumah sakit kondisi ibunda masih sehat.

“Waktu masuk rumah sakit Sabtu [2/3/2019] lalu kondisi beliau masih sehat. Tetapi setelah lima hari menginap kondisi tangannya mulai membengkak dan harus dioperasi,” ujarnya.

Tetangga Mbok Jum, Sugiono, mengaku sempat menjenguk Mbok Jum sewaktu berada di rumah sakit. “Setelah diamputasi, beliau masih bisa diajak berbicara. Tetapi tadi pagi dapat kabar beliau meninggal,” ujarnya.