Lawan Suami di Pilkades Klaten, Sejumlah Istri Pilih Tak Hadir

Pemilih antre mencoblos saat Pilkades Candirejo, Ngawen, Rabu (13/3/2019). (Solopos - Ponco Suseno)
13 Maret 2019 19:35 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sejumlah perempuan calon kepala desa (cakades) yang melawan suami mereka di pemilihan kepala desa (pilkades) serentak Klaten, Rabu (13/3/2019), tidak hadir saat pencoblosan hingga penghitungan suara.

Panitia pilkades di desa-desa tersebut tetap melanjutkan tahapan pencoblosan dan penghitungan suara. Berdasarkan pantauan Solopos.com, ketidakhadiran istri yang melawan suami saat pilkades di antaranya terjadi di Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen.

Di desa tersebut hanya ada dua cakades yang berstatus pasangan suami istri (pasutri), yakni Indiyah Kusumaningsih dan Budi Diyatmiko. Saat pencoblosan berlangsung, Indiyah Kusumaningsih masih bertugas di luar kota.

Indiyah Kusumaningsih yang merupakan seorang manajer di salah satu perusahaan percetakan dan penerbitan Klaten itu sedang menjalankan tugas di Batang dan Pekalongan.

“Cakades Ibu Indiyah Kusumaningsih tak hadir [tanpa keterangan]. Yang ada di panggung saat ini hanya Pak Budi. Salah satu syarat yang harus dipenuhi cakades, yakni hadir saat pencoblosan dan penghitungan. Lantaran Ibu Indiyah Kusumaningsih tak hadir, perolehan Ibu Indiyah Kusumaningsih dianggap tidak sah,” kata Ketua Panitia Pilkades Tempursari, Ahmad Aspari, saat ditemui wartawan di sela-sela pencoblosan di desa setempat, Rabu.

Ketentuan mengenai cakades yang tidak hadir diatur dalam Perbup No. 41/2018 tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Kades. Budi Diyatmiko mengatakan istrinya sedang ada tugas dari perusahaannya di kawasan Batang dan Pekalongan. Tugas itu diterima istrinya secara mendadak.

“Istri saya pergi ke Batang, Selasa [12/3/2019] sore. Hari ini [kemarin] dilanjut ke Pekalongan. Ada urusan dari kantor. Memang mendadak, makanya tak sempat mengurus surat keterangan tidak hadir," jelas Budi.

Jika terpilih lagi, Budi mengatakan akan fokus meningkatkan infrastruktur di pertanian, seperti pembangunan saluran air, talut, penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan). Luas areal pertanian di Desa Tempursari mencapai 105 hektare.

Hal yang sama terjadi di Desa Pasung, Kecamatan Wedi. Di desa ini pilkades diikuti dua cakades, yakni Sumarsono alias Ambon dan Atik Sulistriyani. Keduanya berstatus pasutri.

“Ibu Atik Sulistriyani tidak hadir tanpa keterangan saat pencoblosan dan penghitungan. Saat ini yang hadir hanya Pak Sumarsono didampingi anaknya,” kata Ketua Panitia Pilkades di Pasung, Tugino.

Cakades Pasung, Sumarsono, mengatakan keputusan istrinya tak hadir saat pencoblosan dan penghitungan suara baru diputuskan pada Rabu pagi. Selama pencoblosan dan penghitungan suara, istrinya memilih tinggal di rumah.

“Istri saya ada kesibukan di rumah. Di sini, saya didampingi anak saya. Jika terpilih lagi, saya ingin melanjutkan pembangunan agrowisata di desa,” katanya.

Di Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, salah satu cakades juga memilih tak hadir tanpa keterangan saat pencoblosan dan penghitungan suara. Di desa ini hanya ada dua cakades, yakni Yolanda Ayu Fahma dan petahana, Siti Hibatun Yulaika. Yolanda merupakan anak kandung Siti

“Mbak Yolanda memang tak hadir tanpa keterangan. Di panggung hanya terdapat Ibu Siti Hibatun Yulaika yang didampingi suaminya, Hartono,” kata Ketua Panitia Pilkades di Desa Pepe, Usman Afandi.

Sementara itu, Siti Hibatun Yulaika maju lagi sebagai cakades karena ingin melanjutkan program peningkatan kesejahteraan masyarakat, di antaranya melanjutkan pembangunan gedung serbaguna.

“Saya di panggung sendiri karena anak saya tak hadir. Saya tadi berangkat lebih dahulu. Jadi tak tahu juga ternyata anak saya tak datang,” katanya.

Salah seorang cakades di Candirejo, Kecamatan Ngawen, juga tak hadir saat pencoblosan dan penghitungan suara. Cakades bernama Suparno itu tak hadir karena sakit.

“Posisi [di panggung] Pak Suparno digantikan anak dan istrinya. Kondisinya memang benar-benar sakit. Lantaran ada surat keterangan, ketika ada yang memilih Pak Suparno, suaranya tetap sah,” katanya.