Asyik, UKM Bisa Pakai Aplikasi Gratisan untuk Kelola Keuangan

Anggota Kelompok Usaha Mandiridi Dukuh Talun, Dusun Tengklik, RT 001/RW 006, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng menunjukkan cara pembuatan stik ubi, Kamis (22/11 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
14 Maret 2019 12:40 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mendorong pelaku usaha memanfaatkan teknologi informasi. Caranya mengelola pembukuan laporan keuangan melalui aplikasi Keuangan Digital (Kendi).

Deputi Mandiri Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria Boru Simanungkalit, mengatakan lebih dari 50% UKM di Indonesia belum bisa mengakses perbankan alias bankable. Salah satu penyebabnya adalah tak memiliki pembukuan keuangan yang baik. Padahal laporan keuangan inilah yang menjadi dasar pengajuan kredit perbankan.

“Maka dari itu, pelaku UKM mesti memanfaatkan teknologi informasi. Upaya pemerintah dalam hal ini meneken nota kesepahaman dengan aplikasi Kendi untuk mendampingi UKM soal pembukuan khususnya,” ujar Victoria kepada wartawan setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Koperasi dan UKM dan Kendi di Hotel Adhiwangsa Solo, Rabu (13/3/2019).

Victoria memaparkan sebenarnya pelaku UKM ini sudah terjamah teknologi dengan pemakaian telepon pintar setiap hari. Namun demikian, mereka menggunakannya baru untuk keperluan pribadi seperti telepon, chat, dan media sosial. Menurutnya, dengan menggandeng Kendi, pelaku UKM bisa memaksimalkan telepon seluler untuk mencatat pembukuan usaha. Hal ini didukung dengan aplikasi Kendi yang praktis dengan hanya mengunduh melalui Playstore kemudian menggunakannya secara gratis.

Sekretaris Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Devi Rimayanti, menambahkan semula pemerintah berupaya mencari aplikasi yang mudah dimengerti oleh UKM soal pembukuan.

“Kami mencari aplikasi yang mudah digunakan oleh mereka karena sebenarnya para pelaku UKM ini sudah bisa menggunakan telepon pintar misalnya yang berbasis Android. Maka dari itu, sebagai permulaan kami libatkan UKM dan koperasi dalam pelatihan ini agar mereka bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk usaha masing-masing, seperti tertib pembukuan,” papar Devi.

Chief Technology Officer Kendi, Pandu Sastrowardoyo, menjelaskan selama ini UKM kesulitan mendapatkan pinjaman atau kredit melalui perbankan karena kurangnya literasi finansial dan digital. Hal ini disebabkan rendahnya validitas data yang diberikan UMKM kepada pemberi pinjaman. Maka dari itu, Kendi membantu UKM tersebut soal pembukuan laporan keungan.

“Aplikasi ini membantu UKM untuk membuat laporan keuangan sendiri. Mereka tinggal memasukkan angka-angka sesuai posnya, misalnya pengeluaran, pemasukan, hingga transaksi usaha. Nantinya, mereka bisa tahu kegiatan transaksi, laporan laba rugi, manajemen stok barang, dan piutang. Dengan data ini tentu kian menambah kepercayaan perbankan atau pun lender lain meminjamkan modalnya untuk usaha,” jelasnya.