140 Halte BST Solo Tak Ramah Difabel

Kondisi halte portabel Bus Batik Solo Trans (BST) di Jl. Ir. Sutami, Jebres, Solo, Senin (11/3/2019). (Solopos - Nicolous Irawan)
14 Maret 2019 17:15 WIB Candra Mantovani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sebanyak 140 halte bus Batik Solo Trans (BST) yang berjenis portable tidak memiliki fasilitas yang mendukung akses penyandang disabilitas. Hal ini lantaran kondisi lokasi yang tidak memadai untuk membangun halte sesuai standar yang mendukung para penyandang disabilitas.

Pantauan Solopos.com, awal pekan ini, halte portable untuk menunggu bus BST hanya berukuran kecil. Halte tersebut tidak memiliki fasilitas yang mendukung para penyandang disabilitas ketika menunggu BST sehingga para penyandang disabilitas harus bersusah payah menaiki tangga yang diperuntukkan warga nondifabel.

Seluruh halte BST berjenis portable yang tersebar di seluruh rute BST tidak memiliki fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan para penyandang disabilitas. Tidak ada jalur miring (ramp) untuk memudahkan para difabel menaiki halte yang rata-rata tinggi tersebut.

Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Dishub Solo Taufik Muhammad mengatakan desain halte portabel memang belum didesain ramah difabel. Menurutnya, desain halte yang ramah difabel hanya dimiliki halte permanen.

“Desain sesuai SOP yang ramah difabel hanya halte permanen. Halte permanen semua ada ramp-nya. Sedangkan halte portabel memang belum bisa dibuat ramah penyandang disabilitas. Ada banyak faktor yang menyebabkan halte portabel tidak mendukung fasilitas untuk penyandang disabilitas,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com, Senin (11/3/2019).

Menurut Taufik, salah satu faktor yang tidak memungkinkan untuk menambah fasilitas akses difabel lantaran lahan yang terlalu sempit. Hal ini lantaran, diperlukan minimal lahan selebar 20 meter untuk membangun akses difabel sesuai SOP yang ditentukan sehingga desain tersebut tetap dipertahankan sampai saat ini.

“Faktor utama adalah lokasi. Karena minimal lahan harus 20 meter. Kalau tidak sesuai SOP tentu kami tidak akan berani membangun. Selain itu juga banyak masalah perencanaan. Rata-rata banguan belakangnya tidak setuju depan rumahnya dibangun halte. Jadi tidak bisa mewujudkan halte yang ramah difabel secara merata,” ungkap Taufik.

Menurut Taufik, ada 140 halte portable di seluruh jalur rute BST. Sebanyak itu lah halte BST yang tidak memiliki akses untuk para difabel ketika menunggu bus BST.

“Total dengan luar kota ada 140 jumlah halte portable BST di seluruh rute. Untuk infrastruktur difabel ada aturan yang harus dipenuhi. Jadi tidak bisa kami keluar dari aturan tersebut. Untuk saat ini halte masih dipertahankan. Agar sesuai standar pembuatan halte harus melewati proses dan perencanaan yang panjang juga,” kata Taufik.