Regart Sport Indonesia, Kebangkitan Startup Berbasis Produksi

Pemilik PTRegarSport Industri Indonesia (RSII) Jumariyanto (kedua dari kiri) berbincang dengan jajaran manajemen di rumahnya, Pokoh, Wonoboyo, Wonogiri, beberapa waktu lalu./Istimewa - RegarSport
14 Maret 2019 10:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRIStartup alias perusahaan rintisan lazimnya bergerak di bidang jasa mulai dari transportasi, market place, hingga financial technology (fintech). Namun, di Wonogiri, start up baru dengan lini usaha di bidang produksi dilakukan PT Regar Sport Industri Indonesia (RSII).

Kehadiran startup selalu diilhami penyelesaian masalah (problem solving) yang ditemui di masyarakat. Ahmad Zaki, pemilik Bukalapak misalnya, mempertemukan penjual dan pembeli dalam satu platform market place. Hal serupa juga dilakukan Gojek dengan mendekatkan masyarakat atas kebutuhan sarana transportasi.

“Lalu apa problem solving oleh Regar Sport? Ketika satu orang bisa mengakses satu desain untuk produksi sekelas pabrik. Selama ini pabrik dikenal harus produksi massal. Tapi, di Regar Sport, orang bisa mendesain sesuai selera butik dengan kualitas dan harga pabrik,” kata pemilik PT RSII, Jumariyanto, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Pokoh, Wonoboyo, Wonogiri, Rabu (13/3/2019).

Status sebagai startup itu bukan tanpa dasar. Jumariyanto menjelaskan dihitung dari jumlah transaksi, PT RSII bisa membukukan 12.000-14.000 transaksi per bulan dengan omzet Rp4,5 miliar-Rp4,7 miliar per bulan. Capaian itu merupakan hasil kerja manajemen bersama 250 agen dan ribuan reseller di seluruh Indonesia. “Ini bukan bisnis berbasis omzet melainkan kemampuan membangun pola jejaring. Jika satu reseller bisa menghasilkan 125 transaksi per bulan, dia bisa mengantongi Rp5 juta-Rp10 juta pendapatan bersih per bulan. Kalau data ini kami kunci, secara statistik ada 40.000-100.000 transaksi per bulan atau 1 juta lebih transaksi per tahun. Masa ini masih dibilang usaha konvensional? Pada akhirnya ini startup,” terang Jumariyanto.

Dengan 40.000 transaksi bisa dibukukan omzet Rp16 miliar per bulan. Angka itu ditargetkan bisa terpenuhi pada 2019. Sejumlah usaha terus digenjot salah satunya dengan membangun jejaring reseller. Dalam satu bulan setidaknya ada 2.000 reseller bergabung. “Kami berharap satu bulan pada tahun ini bisa Rp16 miliar,” harap Jumariyanto.

Untuk menuju ke sana, Jumariyanto membenahi sejumlah pelayanan setingkat startup. PT RSII dengan tim teknologi informasi (TI) yang dimilikinya mengembangkan aplikasi yang ramah milenial untuk custom design, memperkuat jaringan, lini produksi, dan lainnya. Untuk mempermudah transaksi, sejumlah bank juga menawari layanan virtual account. “Beberapa bank datang kepada kami menawarkan virtual account. Kami tidak ingin buru-buru karena startup berbasis produksi baru kami kembangkan hari ini,” beber Jumariyanto.