Banyak Pro Kontra Soal Patung Macan, Bupati Wonogiri Buka Audiensi

Patung macan berdiri di pertigaan Nambangan, Selogiri, Wonogiri. Foto diambil akhir Februari 2019 lalu. - Rudi Hartono
14 Maret 2019 15:16 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Wacana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri mengganti dua patung di kawasan perbatasan di Selogiri mendapat tanggapan beragam. Warga menyuarakan pendapat melalui media sosial (medsos). Merespons hal itu, Bupati, Joko Sutopo, membuka ruang diskusi untuk membahasnya.

Seperti diberitakan Solopos edisi 23 Maret lalu, Pemkab berencana mengganti patung macan di Nambangan dan Kanjeng Ratu Kencana Sari dekat Terminal Giri Adipura, Krisak, Singodutan, karena dinilai tak memiliki nilai edukasi atau filisofi kebangsaan maupun kedaerahan. Patung itu dipandang justru kental dengan nuansa mistis.

Pengamatan Espos di akun Instagram yang memuat berita Solopos.com tentang wacana Pemkab tersebut, Selasa (12/3/2019), sebanyak 167 warga Internet (warganet) menyampaikan pendapat di kolom komentar. Mayoritas warganet tidak setuju dengan rencana Pemkab. Mereka menilai lebih baik anggaran untuk kegiatan itu dialihkan untuk memperbaiki jalan rusak. Mereka menilai masih banyak jalan yang rusak perlu mendapat perhatian Pemkab. Bahkan, ada yang sampai menggambarkan kondisi jalan rusak dan menunjukkan lokasinya. Ada pula yang memandang kedua patung itu sudah menjadi ikon daerah, sehingga tak perlu diganti.

Warganet lainnya memberi masukan lebih baik patung tersebut diganti patung wayang, gunungan, singkong karena berhubungan dengan gaplek yang menjadi ciri khas Wonogiri, Jenderal Sudirman, atau kethek ogleng (kesenian khas Wonogiri). Sebagian kecil mengutarakan rasa syukur akhirnya aspirasi yang sudah lama disampaikan akan terwujud. Bahkan, ada warganet yang menyampaikan hal lucu, seperti patung Kanjeng Ratu Kencana Sari di Krisak selalu membuat kangen dan pengin pulang kampung. Adapula yang mengarang cerita berdasar kedua patung itu.

Kuwi ceritane Kanjeng Ratu Kencana Sari meh neng Keraton Solo, tapi mandek neng Terminal Krisak, amargo reti ana macan gede neng persimpangan Nambangan [Itu ceritanya Kanjeng Ratu Kencana Sari sedang menuju Keraton Solo, tetapi berhenti di Terminal Krisak karena tahu ada macan besar di persimpangan Nambangan],” tulis pemilik akun tyasbuana.

Merespons tanggapan tersebut, Bupati menyatakan Pemkab terbuka dengan segala masukan dan kritikan warga. Saat ditemui Solopos.com di kawasan kota Wonogiri, Selasa, Bupati mengatakan Pemkab akan membuka ruang audiensi dengan berbagai elemen masyarakat untuk menyamakan cara pandang. Jika perlu audiensi digelar di pendapa rumah dinasnya agar dapat menampung banyak orang. Menurut dia cara pandang yang perlu dibangun adalah pembangunan ruang publik yang bersifat monumental harus berdasar parameter terukur, seperti nilai filosofis, kesejarahan, edukasi, budaya, atau aspek positif lainnya.

“Berbeda pendapat itu biasa, bagian dari dinamika kehidupan. Namun, perbedaan atau keberagaman pendapat itu harus dibangun dari satu kesadaran bahwa pendapat harus dapat dipertanggungjawabkan,” ucap Bupati.

Dia mengaku sengaja melempar wacana penggantian patung di Selogiri ke publik agar mendapat respons warga. Dari hal tersebut Pemkab bisa mendapat masukan dan kritikan warga. Respons tersebut akan menjadi bahan pertimbangan Pemkab.