Desa Tiyaran Bulu Sudah 3 Bulan Diinvasi Kera, Kapolres Sukoharjo Turun Tangan

Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi berdialog dengan warga di Desa Tiyaran, Bulu, yang terdampak serangan kera, Jumat (15/3/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
15 Maret 2019 16:35 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Serangan kera di Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, belakangan ini semakin merajalela. Serangan kera tersebut meresahkan warga setempat lantaran merusak tanaman di ladang warga.

Serangan kawanan kera itu bahkan sampai memancing reaksi Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi untuk turun dan melihat kondisi Desa Tiyaran. Kapolres mendatangi dua dukuh yang menjadi sasaran serangan kera yaitu Dukuh Jatirejo RT003 RW009 dan Dukuh Kerten RT002 RW007.

"Hasil komunikasi dengan warga, serangan kera merajalela dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Ini meresahkan masyarakat," katanya, Jumat (15/3/2019).

Menurut Kapolres, diperlukan langkah-langkah untuk menyelesaikan persoalan kera yang turun gunung tersebut. Salah satunya dengan mendatangkan Suku Badui dari Banten untuk melakukan penangkapan.

Selain itu, warga juga bisa mengarahkan petugas untuk mengusir kera liar. Kepala Desa Tiyaran, Sunardi, mengatakan jika sebelumnya kera hanya menyerang desa di sekitar bukit, saat ini kawanan kera meluaskan area serangan hingga ke seberang jalan raya.

"Setiap kali turun ke desa jumlah kawanan kera mencapai puluhan. Tidak lama kemudian, kawanan kera mengobrak-abrik tanaman yang ditanam oleh warga," katanya, Jumat.

Kawanan kera tersebut menyerang tanaman milik warga seperti tanaman kacang, ketela pohon, dan lainnya. Pemerintah desa tidak bisa berbuat banyak terhadap kawanan kera tersebut.

Selain jumlahnya banyak, kera-kera tersebut juga sudah tidak takut lagi jika diusir dengan tangan kosong. "Karena itu saat ini banyak warga yang mengusir dengan senapan angin," katanya.

Menurutnya, menggunakan senapan angin menjadi opsi warga karena kawanan kera baru bubar saat ada suara keras. Sunardi mengatakan kemungkinan kera-kera tersebut turun ke permukiman warga karena lokasi yang selama ini dijadikan tempat mencari makan sedang kosong. Hal ini terjadi karena musim hujan disertai angin yang mengakibatkan banyak pohon di atas bukit ambruk.