50.848 Wong Solo Masih Miskin

Ilustrasi anak/anak bermain di gang sempit di kawasan padat penduduk. (Bisnis/Paulus Tandi Bone)
16 Maret 2019 19:30 WIB Kurniawan Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Angka kemiskinan di Kota Solo, Jawa Tengah, hingga akhir tahun 2018 masih di angka 9,08 persen. Jumlah itu ditargetkan turun di angka enam persen hingga tujuh persen pada tahun 2020/2021.

Penjelasan itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo, Ahyani, saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2019 bertema Pemerataan Pembangunan antar Wilayah Menuju Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan di Pendapi Gede Balaikota Solo, Sabtu (16/3/2019).

Menurut dia, angka kemiskinan tersebut merujuk data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). “Data itu dari BPS. Kalau kami kan tidak bisa bikin data sendiri. Untuk Subosukawonosraten Solo hanya kalah dari Sukoharjo,” tutur dia.

Bila dikonversi dalam jumlah jiwa dengan jumlah penduduk 560.000 orang, artinya warga miskin Kota Bengawan di kisaran 50.848 jiwa. Jumlah tersebut akan terus ditekan Pemkot agar hanya di angka enam hingga tujuh persen tahun 2021.

Merujuk data BPS terjadi penurunan signifikan jumlah penduduk miskin Kota Solo pada tahun 2017 ke tahun 2018. Capaian itu tidak lepas dari intervensi berkelanjutan yang telah dilakukan Pemkot Solo. “Penurunannya 1,5 persen,” ujar dia.

Bila Pemkot bisa menjaga konsistensi dalam program pengentasan kemiskinan, Ahyani optimistis angka kemiskinan bisa terus ditekan.

“Yang perlu terus didorong adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Warga kurang mampu harus bisa berproduksi. Walau pun memang tak semuanya bisa melakukan itu, utamanya mereka yang masuk kategori miskin absolut,” imbuh dia.

Anggota Komisi IV DPRD Solo, Ardianto Kuswinarno, meminta Pemkot Solo tidak cepat puas dengan capaian tahun 2018 yang berhasil menekan angka kemiskinan secara signifikan. Sebab, angka global kemiskinan Solo masih terbilang tinggi.

Langkah yang harus dilakukan Pemkot Solo menurut politikus Partai Gerindra itu yakni mendorong penciptaan lapangan-lapangan pekerjaan bagi warga. Dengan begitu angka pengangguran berkurang dan ekonomi masyarakat menggeliat.

Langkah lain yang bisa dilakukan Pemkot menurut Ardianto yaitu mendorong lahirnya wirausahawan-wirausahawan baru. “Berikan mereka kail atau alat untuk bekerja, bukan hanya memberi ikannya saja,” saran dia.