Sedotan Minuman dari Bambu Karanganyar Rambah Pasar Mancanegara

Donio Prayitno Putro (kedua dari kanan), 26 dan Della Rimadhani (kedua dari kiri), 23, membersihkan sedotan bambu di Jl. Nusa Indah Nomor 5 A, Ngringo, Jaten, Karanganyar, Senin (4/3/2019). - Wahyu Prakoso
16 Maret 2019 05:00 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, Karanganyar -- Dua tahun terakhir Joko Prayitno menekuni usaha membuat sedotan minuman ramah lingkungan. Dengan bantuan dua anak dan istrinya, kini dia sukses memasarkan sedotan minuman itu hingga Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

Saat Solopos.com tiba di kiosnya pukul 13.30 WIB, Senin (4/3/2019). Terdengar suara nyaring dari gergaji kayu otomatis setinggi lutut orang dewasa. Yitno, panggilan akrabnya, sedang memotong bambu berdiameter satu sentimeter di depan kios.

Laki-laki 52 tahun tersebut memotong bambu dengan ukuran panjang 20 sentimeter hingga 22 sentimeter. Saat tumpukan potongan bambu memenuhi karung putih, istrinya mengambil tumpukan bambu tersebut. Lalu mengerik kedua sisi lubang bambu dengan ujung pisau.

Bisnis ini menarik karena sedotan minuman dari bambu itu natural, limbahnya bisa terurai tidak membahayakan lingkungan. Kami berkomitmen menjaga alam terbebas dari plastik,”katanya kepada Solopos.com.

Dia menjelaskan, sudah terjun menjual mainan dari bahan bambu wuluh sejak puluhan tahun lalu. Dia mengaku, melihat peluang pasar mengenai sedotan ramah lingkungan sejak dua tahun lalu.

“Saya sudah memiliki jaringan, jadi tidak kesulitan untuk memasarkan sedotan ramah lingkungan tersebut. Tantangannya justru pada bahan baku. Kami bergantung dengan alam. Ketika ada pesanan banyak, kami kewalahan,”katanya kepada Solopos.com.

Yitno menjelaskan, bambu diambil dari petani di berbagai kota di Jawa, antara lain Kediri, Malang, Ponorogo, dan sebagainya. Dia mengaku, dalam sehari bisa memproduksi sedotan sebanyak 15.000 potong.

Sementara itu, saat Solopos.com masuk ke dalam kios terdengar suara ketukan bambu wuluh dengan nampan plastik. Anak laki-laki Yitno, Donio Prayitno Putra, 26, membersihkan bambu dengan mesin penyedot debu, lalu mengetukan bambu ke nampan.

Tidak cukup sampai disitu, putri Yitno, Della Rimadhani, 23, membersihkan sisi dalam bambu dengan kain perca sepanjang satu meter yang diikat dengan tembaga sepanjang 30 sentimeter. “Sampai benar-benar bersih mas, kain dimasukkan ke lubang tiga hingga empat kali,” katadia kepada Solopos.com.

Bersama Della, tampak tiga orang mengemas bambu yang sudah bersih ke dalam kardus. Bambu tersebut siap dikirim ke konsumen.

Yitno mengatakan memasarkan sedotan buatannya ke berbagai kota besar di Indonesia, antara lain, Jakarta, Bandung, Makasar. Selain memenuhi pasar dalam negeri, dia juga menjual ke berbagai negara seperti, Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Dia mengaku, menjual setiap pieces dengan harga Rp.3.000. Pembelinya dari restoran, hotel, kafe.

“Omzetnya Rp30 juta hingga Rp35 Juta. Setiap bulan tumbuh. Potensi alam kita melimpah, semoga dinas terkait membantu untuk pembinaan dan penanaman bambu untuk meningkatkan taraf hidup petani,”katanya kepada Solopos.com.