Kibaran Merah Putih Antar Pesan Nasionalisme dari Kemuning Karanganyar

Ratusan anggota Banser NU, PSHT, dan warga mengarak bendera Merah Putih menuju bukit Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, Sabtu (16/3 - 2019). (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
16 Maret 2019 20:30 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Ribuan orang berkumpul di tanah lapang di Bukit Kemuning, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (16/3/2019) pagi. Mereka memegang bendera merah putih yang diikat pada potongan bambu ukuran 60 sentimeter (cm) dan mengibarkan bendera itu ke kiri dan ke kanan.

Di antara kibaran ribuan bendera merah putih terselip puisi berjudul Suatu Pagi di Bukit Kemuning karya Dwi Kuranto alias Mas Kuntet. Sementara itu rombongan orang berjalan dari timur menuju bukit tertinggi. Rombongan dipimpin beberapa lelaki mengenakan beskap disusul rombongan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Anggota PSHT mengapit Banser.

Anggota PSHT membawa bendera yang diikatkan pada tongkat sedangkan Banser memanggul bendera. Bendera berukuran 30 meter x 20 meter sehingga membutuhkan beberapa orang untuk memanggul. Begitu sampai bukit tertinggi, mereka mengambil posisi masing-masing. Bendera raksasa dikibarkan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Setiap orang di antara kerimbunan pohon teh memberi hormat hingga bendera berkibar penuh dan lagu Indonesia Raya selesai berkumandang. Mereka bertepuk tangan saat melihat bendera raksasa bertengger di antara pepohonan teh.

Itulah rangkaian acara Apel Kebangsaan dengan tema Amanat dari Desa untuk Indonesia, Gelar Pataka Satya Nagari.

Penasihat Acara, Widadi Nur Widyoko, menyampaikan penyelenggaraan kegiatan melibatkan seluruh komponen masyarakat. “Ini upaya kami menguatkan rasa nasionalisme, menguatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bersama-sama. Mari merawat rasa ke-Indonesia-an, memupuk nasionalisme, menumbuhkan jiwa patriotik. Indonesia ke depan maju dan lebih baik,” tutur dia.

Yoko, sapaan akrabnya, menyampaikan bendera ukuran 30 meter x 20 meter dijahit warga. Dia menyebut bendera raksasa sebagai hasil kerja sama warga Karanganyar tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan.

“Kegiatan ini murni mengajak masyarakat hidup rukun, damai. Mari bersama-sama memajukan Indonesia," ujar dia.

Kegiatan diisi orasi kebangsaan oleh perwakilan Gerakan Jaga Indonesia, Budi Djarot, dan Ahmad Muwafiq yang akrab disapa Gus Muwafiq. Budi mengingatkan perihal hoaks dan narasi berbau agama yang bertujuan menghancurkan dan merendahkan bangsa.