Pencairan Bantuan Pangan Nontunai Solo Sempat Crash, Ini Penyebabnya

Dua pekerja menyiapkan telur di e-warong milik Endang Saryani, 50, di Josutan RT 002/RW 002, Kaliancar, Selogiri, Wonogiri, Jumat (30/11 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
17 Maret 2019 10:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah mesin electronic data capture (EDC) di Kota Solo mengalami gangguan saat penyaluran Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) pada Januari dan Februari lalu. Pencairan bantuan pengganti program pemberian beras sejahtera (rastra) itu dilakukan setiap tanggal 25 di e-warong (elektronik warung gotong royong).

Kabid Pemberdayaan Fakir Miskin Dinas Sosial (Dinsos) Kota Solo, Dian Rineta, mengatakan sistem EDC pada bank penyalur mengalami crash sehingga dana milik keluarga penerima manfaat (KPM) tidak terpotong.

“Kartu merah putih milik KPM itu digesek sampai dua kali tidak terpotong karena seluruh KPM di Indonesia juga mencairkan di saat yang sama. Akhirnya, keputusan kami mereka tetap diperbolehkan membawa pulang komoditas atau tidak pulang dengan tangan kosong. Sebagai bukti penyaluran, KPM menandatangani berita acara dengan tanda terima,” kata dia kepada wartawan, pekan lalu.

Maksimal tiga hari kemudian, KPM harus kembali ke e-warong tempat mengambil komoditas untuk menggesek kartu lagi. Sistem tersebut, kata Dian, membuat e-warong maupun supplier untuk sementara tidak menerima pembayaran.

Kendati begitu, ia sudah meminta supplier untuk bersabar. “Karena e-warong belum menerima pembayaran, supplier yang kami minta bersabar,” ucapnya.

Di Kota Solo terdapat 96 e-warong yang menjadi penyalur BPNT. Perinciannya, 46 agen binaan Bank Himbara atau Himpunan Bank Milik Negara, 46 e-warong KUBE Jasa, dan empat e-warong binaan Pemkot Solo. Setiap KPM menerima Rp110.000 per bulan untuk ditebus dengan beras dan telur.

“Tahun ini jumlah KPM masih sama dengan sebelumnya yakni 31.947 keluarga,” kata dia.