Banjir, Longsor, Topan, dan Tanah Gerak di Wonogiri Picu Kerugian Rp681 Juta

Personel BPBD Wonogiri memeriksa lokasi tanah bergerak di Dusun Joho, Desa Kedawung, Kecamatan Kismantoro, Kamis (21/2/2019). (Istimewa - BPBD Wonogiri)
17 Maret 2019 06:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, pada Februari 2019 memicu kerugian material mencapai Rp681 juta. Kerusakan rumah menjadi faktor terbanyak akibat bencana banjir, angin topan, dan tanah longsor di sejumlah desa.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, menjelaskan kerugian itu terjadi akibat 23 kejadian bencana dengan wilayah terdampak 59 lokasi.

Secara terperinci, 23 bencana alam itu meliputi: 12 tanah longsor, 7 angin topan, 3 banjir, 1 tanah bergerak.

“Banjir terjadi pekan lalu akibat hujan deras menerjang wilayah Kecamatan Nguntoronadi, Kecamatan Tirtomoyo, dan sekitarnya. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu namun 25 rumah tergenang,” kata dia, kepada solopos.com, Sabtu (16/3/2019).

Tanah longsor di Wonogiri, lanjut Bambang, mengakibatkan 14 rumah rusak sedang dan 5 rumah rusak ringan serta 1 bahu jalan longsor. Kemudian, angin topan mengakibatkan dua rumah rusak sedang, 14 rudak ringan, dan dua rumah roboh.

Sedangkan tanah bergerak mengakibatkan satu rumah rusak berat, dua rusak sedang, dan dua jembatan rusak.

“Tanah bergerak terjadi di Dusun Joho, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro. Sebanyak 30 keluarga harus mengungsi karena kondisi tanah belum stabil disertai hujan yang masih intens terjadi. BPBDWonogiri mendirikan posko untuk pengungsian serta menerjunkan personel untuk memantau dinamika tanah bergerak di sana. Bantuan logistik juga kami siapkan untuk menjamin kebutuhan pengungsi,” terang Bambang.