Mahasiswa Kedokteran UNS Suarakan Hak Perempuan dengan Long March di CFD Solo

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo membawa spanduk dan poster saat aksi longmarch di area car free day (CFD), Jl. Slamet Riyadi, Solo, Minggu (17/3 - 2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
18 Maret 2019 01:00 WIB Candra Mantovani Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Center for Indonesian Medical Student Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) lakukan aksi long march untuk peringati Hari Perempuan Internasional Minggu (17/3/2019) di CFD Solo. Dalam aksi tersebut mereka menyuarakan hak-hak perempuan dan menolak kekerasan terhadap perempuan.

Sebanyak puluhan mahasiswa kedokteran Fakultas Kedokteran UNS Solo melakukan aksi berjalan sambil menyuarakan yel-yel penolakan kekerasan terhadap perempuan. Aksi tersebut dimulai dari Hotel Diamond, Solo dan berakhir di depan Taman Sriwedari, Solo. Setelah melakukan aksi long march mereka dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengampanyekan hak-hak perempuan.

Vice Local Coordinator for External Affairs CIMSA Fakhira Widiyani mengatakan bahwa aksi long march bertujuan untuk memperingati hari perempuan internasional. Selain itu, aksi long march juga dilakukan untuk menyuarakan penolakan terkait kekerasan terhadap perempuan.

“Di Indonesia masih banyak perempuan yang masih insecure. Perempuan masih merasa tidak aman dalam melakukan hal yang mereka inginkan. Masih banyak kekerasan yang dialami perempuan,” ungkapnya saat ditemui ditengah aksi long march.

Menurut Fakhira, perempuan harus memperjuangkan hak mereka agar dapat melakukan kegiatan yang mereka inginkan. Selain itu, dia mengkritisi masih banyak kekerasan seksual terhadap perempuan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

“Meskipun tidak tabu, tapi di Indonesia jarang sekali pembahasan terkait hak perempuan. Perempuan perlu memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan keamanan. Karena banyak kasus perempuan dianiaya karena menolak berhubungan badan, bahkan anak menjadi korban. Perempuan harus berani menyuarakan hak mereka,” jelas Fakhira.

Project Officer CIMSA Azhar Citra Lukito mengatakan bahwa fokus utama melakukan aksi untuk menolak kekerasan terhadap perempuan. Masyarakat memerlukan adanya edukasi, agar tahu pentingnya tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan.

“Kami ingin mengubah stigma yang ada tentang perempuan. Perempuan tidak seharusnya menjadi sasara kekerasan. Kami melakukan aksi ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait sexual harrasment. Tidak hanya perempuan, laki-laki yang peduli terhadap perempuan juga ikut memberikan edukasi dalam aksi yang kami lakukan,” kata dia.