Hai Penyuka Kopi, Ini Data Produksi Kopi di Solo dan Sekitarnya

Peserta Ngopi Van Java meracik kopi di halaman Kantor RRI Solo, Minggu (17/3/2019) - (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
18 Maret 2019 11:00 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah mengadakan ekspo untuk mengenalkan kopi Jawa Tengah di Solo, tepatnya di halaman Kantor RRI Solo, Sabtu-Minggu (16-17/3/2019). Kegiatan bertajuk Ngopi Van Java ini juga menjadi ajang mengenalkan kopi yang diproduksi di Solo dan sekitarnya.

Produksi kopi di Jawa Tengah cukup besar yakni mencapai 1.890,16 ton kopi Arabika dan 14.920,82 ton kopi Rabusta pada 2016. Meski bukan yang utama, kopi asal Soloraya bisa dijumpai di sejumlah kabupaten seperti Boyolali, Klaten, dan Wonogiri. Produksi kopi juga ada di Karanganyar sebanyak 1,23 ton (Arabika) dan 2,17 ton (Robusta). Di Sragen hanya ada produksi 4,90 ton kopi Robusta. Sedangkan di Solo dan Sukoharjo tidak ada budi daya kopi.

Anggota panitia Ngopi Van Java, Anggoro, saat ditemui wartawan di Halaman Kantor RRI, Minggu, mengatakan kemunculan kedai kopi di Solo sudah terjadi sekitar lima tahun lalu. Seiring tren ngopi ini, budi daya kopi pun berkembang di Soloraya.

"Tapi belum banyak. Baru dalam dua tahun terakhir ini mulai marak. Mungkin hampir 100 kedai kopi ada, baik skala kecil maupun skala hotel, dan mereka menjual kopi single origin nusantara," kata dia, MInggu.

Untuk kopi di Jateng, dia menyebutkan kopi lokal Jateng sekarang sedang berkembang dengan sangat baik. "Dulu orang hanya kenal kopi dari daerah Temanggung. Sekarang single origin ada ada banyak. Ada dari Wonogiri, Kendal, Pemalang, Batang, Purworejo, Magelang, bahkan Boyolali mulai ada pembudidayaan,” ujar dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng produksi kopi di Wonogiri mencapai 37,7 ton (Arabika) dan 31 ton (Robusta) pada 2015. Sedangkan produksi kopi di Boyolali dan Klaten masing-masing 80,11 ton (Arabika) dan 160,75 ton (Robusta) serta 107,94 ton (Arabika) dan 4,49 ton (Robusta) pada 2015.

Menurut Anggoro, meskipun kualitas kopi Jateng belum menjadi primadona single origin di Indonesia. Tapi untuk jenis Robusta, kopi Jateng cukup menjadi favorit pencinta kopi.

Ngopi Van Java menampilkan racikan kopi dari 19 tenant. Selain dari Soloraya, ada juga beberapa penyaji kopi dari wilayah lain seperti Temanggung. "Kami berharap kopi Jateng bisa jadi tuan rumah di daerahnya sendiri," imbuh dia.