Impian Besar Dika, Remaja di Solo yang Bertekad Jual Bakso Keliling untuk Kuliahkan Kakaknya

Suasana pertemuan orang tua sekaligus pengambilan rapor di SD Islam Cokroaminoto, Solo, Sabtu (16/3 - 2019) (Ayu Prawitasari)
18 Maret 2019 12:42 WIB Ayu Prawitasari Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Seorang remaja, Dika Aji Saputro, 15, yang akrab dipanggil Dika, saat ini masih duduk di Kelas VI SD Islam Cokroaminoto, Solo. Setelah lulus SD, dia bertekad berjualan bakso keliling untuk membantu keluarganya dan menguliahkan kakaknya. Ini kisahnya.

“Tolong cari Dika,” seru Kepala SD Islam Cokroaminoto Solo, Asmuni, kepada sejumlah siswa yang bermain di halaman sekolah. Hujan baru berhenti, Sabtu (16/3/2019). Tanah di halaman becek. Siswa Kelas VI asyik bermain sambil menunggu orang tua mereka yang menghadiri pertemuan rutin sekaligus pengambilan rapor.

Mencari Dika tak mudah. Dia tak ada di antara para penjual makanan di depan sekolah. Dia juga tak ada di warung-warung kecil sekitar sekolah. Musala sepi, perpustakaan tutup, kamar mandi kosong. Para siswa saling berpandangan. Mereka kebingungan mencari Dika.

Satu-satunya tempat adalah di ruang guru. Benar ternyata. Dika Aji Saputro ada di sana. Dia di antara deretan kursi dan meja. Remaja itu tertidur pulas.

Dika masih mengerjap-kerjapkan matanya saat diajak di ke ruang kepala sekolah. “Kamu tidur ta ternyata,” kata Asmuni. “Iya Pak,” jawab Dika tersenyum kecil, menundukkan wajahnya.

Dika adalah salah satu siswa SD Islam Cokroaminoto yang berada di Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo. Usianya 15 tahun. Tiga kali tak naik kelas di SD lainnya membuat remaja yang tingginya 167 sentimeter ini masih duduk di sekolas dasar.

Membuat Dika bertahan hingga lulus, menurut Asmuni, membutuhkan perjuangan luar biasa. Banyak nasihat, pembicaraan empat mata, sapaan, dan pemberian semangat agar remaja itu bersedia meneruskan sekolah.

“Ceritakan rencanamu setelah lulus Le [panggilan anak laki-laki]?” pinta Asmuni yang duduk di hadapan Dika.

“Bekerja kan Pak. Mau jualan bakso keliling seperti Bapak. Saya pakai motor satunya,” jawab siswa Kelas VI itu.

“Yang Kejar Paket?” kata Asmuni lagi.

“Iya Pak. Ambil Kejar Paket malamnya. Kata Ibu ada di dekat rumah ada. Pagi sampai sore buat jualan.”

Membuat keputusan tidak melanjutkan ke sekolah formal, menurut Dika, sudah melalui pertimbangan masak. Masih ingat di memorinya, pengalaman tidak enak harus makan nasi putih tanpa lauk apa pun selama dua pekan karena sang bapak terserang typhus. Nasi putih itu pun harus dibagi adil supaya empat orang anggota keluarga dan neneknya bisa kenyang.

Dika mengaku tak tega melihat sang bapak bekerja tanpa libur untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Bapaknya bangun pukul 03.00 WIB, memasak pukul 03.30 WIB, menjajakan bakso pukul 08.00 WIB, berbelanja di pasar sehabis Maghrib, dan baru kembali ke rumah pukul 19.00 WIB. “Bapak tidak pernah libur, selalu kecapaian meski ibu juga sudah membantu.”

Membiayai Kakak Kuliah

Setelah mengantongi ijazah SD, Dika bertekat berjualan bakso keliling untuk menambah pendapatan keluarga. Sebagian uang dia tabung untuk membiyai kakaknya yang saat ini duduk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). “Mas [Kakak] itu orangnya pintar. Selalu ranking. Saya mau bantu dia biar bisa kuliah. Bapak kan tidak punya uang. Kalau saya sendiri kan tidak butuh banyak uang, Kejar Paket katanya gratis,” jelas dia.

Asmuni tersenyum mendengar penjelasan Dika. Dia mengaku lega melihat Dika bisa membuat keputusan besar untuk hidupnya. “Jadi nanti ikut ujian nasional kan Le, sampai lulus ta?”

“Iya Pak,” jawab Dika.

Asmuni mengatakan dari 120 murid di di SD Islam Cokroaminoto, hampir semuanya berasal dari keluarga miskin. Cerita murid menunggak SPP sampai ancaman putus sekolah menjadi makanan sehari-hari.

Para guru, lanjut Asmuni, mengupayakan semua siswa tetap bersekolah agar masa depan mereka lebih baik dibandingkan para orang tua. Namun, upaya itu tidak semudah membalik telapak tangan.

“Kasus seperti Dika itu selalu ada setiap tahunnya meski ceritanya agak berbeda. Menjemput siswa agar ikut Ujian Nasional [UN] pernah kami lakukan. Tujuannya jangan sampai itu anak putus sekolah. Kami juga pernah rutin menjemput anak supaya mau berangkat sekolah. Jadi kami datang ke rumahnya pukul 07.00 WIB, sementara anaknya masih tidur pulas. Ya gurunya harus nunggu lah,” kata dia.

Guru Kelas VI, Siti Nurrochmah, mengatakan persoalan kemiskinan menimbulkan akibat yang sangat kompleks. “Pertama, memang soal SPP. Banyak yang nunggak. Ada yang ijazahnya masih di sekolah sementara anaknya sudah SMA. Mereka tidak berusaha menebus ijazah karena merasa tidak perlu. Pandangan mereka lulus sekolah ya kerja di sektor informal. Nah, sektor informal kan kan enggak butuh ijazah,” kata Nur.

Persoalan selanjutnya adalah motivasi sekolah. Menurut Nur, di saat bapak dan ibu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak akhirnya tidak mendapat perhatian. Percuma orang tua menyuruh anak belajar sementara mereka tidak bisa dijadikan tempat bertanya. Kondisi ini menjadikan sekolah menjadi satu-satunya andalan untuk tempat menuntut ilmu.

“Ketiga, situasi yang tak mendukung. Rumah di Sangkrah ini kan empet-empetan, kecil. Satu rumah bisa dihuni dua sampai tiga keluarga. Bagaimana bisa belajar kalau suasananya seperti itu.”

Peran guru di sekolah pinggiran, menurut Nur, sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran orang tua tentang peran pendidikan. Guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik anak sekaligus mendampingi orang tua. Jam kerja guru akhirnya menjadi tidak berbatas.

Anggota Komisi IV DPRD Solo, Reny Widyawati, mengakui kompleksnya persoalan pendidikan yang dihadapi sekolah-sekolah pinggiran. Meski pemerintah banyak mengucurkan dana untuk pemerataan pendidikan, namun ada banyak masalah yang tidak berkaitan dengan dana.

“Pemerintah sudah ada BPMKS [Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo], BOS [Bantuan Operasional Sekolah], KIP [Kartu Indonesia Pintar], sampai PKH [Program Keluarga Harapan] untuk orang tuanya. Ini yang harus dikawal,” jelas dia, Minggu (17/3/2019).

Reny mengaku selalu menyosialisasikan pentingnya pendidikan kepada masyarakat, khususnya mereka yang dari golongan tidak mampu. “Legislator punya tanggung jawab soal ini.”

Upaya lain untuk menumbuhkan motivasi orang tua untuk memprioritaskan pendidikan anak juga harus dilakukan elemen lain, semisal fasilitator PKH hingga Dinas Pendidikan. “Fasilitator PKH harus selalu mengingatkan orang tua untuk berusaha, jangan jadi miskin terus. Pendidikan anak diperhatikan supaya anak lebih maju. Banyak kok cerita anak orang miskin tapi sukses,” kata dia.

Untuk Dinas Pendidikan, Reny berharap bisa menguatkan peran komite sekolah. Dengan diberlakukannya sistem zonasi, komite bisa lebih diberdayakan karena unsur masyarakat sekitar lebih besar. “Jadi semua pihak harus bertanggung jawab untuk memajukan pendidikan anak bangsa.”