Remaja 15 Tahun di Sragen Meninggal Dengan Gejala DBD

ilustrasi demam berdarah. (Solopos/Dok)
18 Maret 2019 16:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Muhammad Abu Bakar, 15, remaja asal Desa Doyong, RT 009, Kecamatan Miri, Sragen, meninggal dunia saat dibawa ke Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Solo pada Sabtu (16/3/2019).

Agung Purnomo, paman Abu Bakar, mengatakan sebelum meninggal dunia, keponakannya tersebut sempat dibawa ke Puskesmas Miri. Oleh Puskesmas Miri, Abu Bakar kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soeratno Gemolong.

Karena kondisinya makin memburuk, Abu Bakar kemudian dirujuk ke RS PKU Muhammadiyah Solo. Namun, belum sempat ia ditangani dokter, nyawanya sudah tidak tertolong.

“Baru tiba di RS PKU Solo, dia sudah tidak tertolong sekitar pukul 13.00 WIB,” jelas Agung kepada Solopos.com, Senin (18/3/2019).

Sebelum Abu Bakar meninggal, Agung menjelaskan sudah ada sekitar 12 warga Desa Doyong yang terindikasi terserang DBD. Hal itu membuat warga menginginkan permukiman di RT 009 Desa Doyong diasapi atau fogging.

Warga sudah datang ke puskesmas untuk meminta pengasapan akan tetapi permohonan warga itu bertepuk sebelah tangan. “Dari dulu, sejak wabah DBD menyerang Desa Soko, permintaan kami untuk fogging selalu ditolak. Saat ada 12 warga terkena [diduga] DBD, puskesmas juga menolak permintaan fogging. Alasannya, karena foging dianggap berbahaya. Selain itu, belum ada warga di desa kami yang meninggal dunia sehingga fogging tak bisa dilakukan,” ujar Agung.

Agung menilai Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen melalui Puskesmas Miri melakukan kelalaian karena tidak segera melakukan fogging di Desa Doyong. Hal itu berdampak pada meninggalnya Abu Bakar.

Dia menilai alasan penolakan fogging karena belum ada warga yang meninggal dunia itu tidak bisa diterima akal sehat. “Fogging baru dilakukan pada Minggu [17/3/2019], sehari setelah keponakan saya meninggal dunia. Tadinya hanya sekitar rumah keponakan saya yang di-fogging. Hal itu sempat membuat warga emosi karena warga menginginkan seluruh rumah di kampung ini di-fogging. Setelah itu, fogging baru dilakukan menyeluruh ke rumah-rumah warga di kampung,” jelas Agung.

Agung menyesalkan fogging baru dilakukan setelah ada warga meninggal dunia karena indikasi DBD. Bila fogging dilakukan jauh-jauh hari, kata Agung, kematian karena indikasi DBD itu kemungkinan bisa dihindari.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr. Agus Sudarmanto, membenarkan ada remaja asal Desa Doyong yang meninggal dunia karena indikasi DBD. Dia belum bisa memastikan penyebab kematian remaja itu karena DBD.

“Kami masih melacak [informasi] ke RSUD Gemolong,” jelas Agus melalui pesan singkat kepada Solopos.com.