Pasar Jadul Sebelum Ada Mata Uang, Begini Suasananya...

Warga membayar makanan menggunakan keping keramik di Peken Pinggul Minggu Legi, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Minggu (17/3/2019). (Espos - Taufiq Sidik Prakoso)
18 Maret 2019 09:05 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN--Bantaran Kali Ujung, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten meriah, Minggu (17/3/2019) pagi. Warga berdesakan melintasi jalan desa yang pagi itu menjadi pasar dadakan.

Meja berderet di tepi jalan berisi aneka makanan hingga jajanan tradisional seperti soto, tape goreng, gemblong, serta lopis. Di meja yang lain ada beragam kerajinan gerabah.

Pagi itu warga mendatangi Peken Pinggul Minggu Legi. Pasar dadakan yang baru kali pertama digelar tersebut bertema tradisional. Tak hanya jenis makanan serta kerajinan, nuansa tradisional juga terlihat pada pakaian yang dikenakan pengunjung.

Seperti Kabiyanto, 35, yang pagi itu mengenakan baju surjan, bercelana kain hitam, dan mengenakan caping. Bersama istri dan anak-anaknya ia menikmati soto yang disajikan menggunakan mangkok serta gelas minuman berbahan gerabah beralas tikar di bawah rindangnya pohon bambu.

"Rasanya asyik. Suasananya berbeda dan natural bisa menikmati suasana makan di bawah pohon," tutur dia.

Selain jajanan dan pakaian, suasana tradisional kian terasa dengan alat pembayaran tak menggunakan uang kertas atau koin logam. Keping berlogo khusus berbahan keramik menjadi pengganti uang. Untuk mendapatkan keping keramik tersebut, pengunjung terlebih dahulu menukarkan uang rupiah mereka di meja penukaran. Satu keping berharga Rp2.000.

Pagi itu Kabiyanto menukarkan uang Rp50.000. Ia mendapatkan 25 keping keramik berlogo keramik. Keping-keping tersebut ia gunakan untuk membayar paket makan soto seharga Rp4.000/paket. "Baru kali pertama ini membeli makanan menggunakan keping keramik," tutur dia.

Pasar tersebut dibuka pukul 07.00 WIB hingga 11.00 WIB. Hadirnya Peken Pinggul Lepen Minggu Legi diinisiasi para ibu keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan.

Pendamping PKH Desa Melikan, Dany Utomo, mengatakan pasar tersebut terinspirasi dari Pasar Doplang, Kabupaten Wonogiri. "Kalau di sana transaksi menggunakan koin, kalau disini menggunakan keping keramik. Jadi uang ditukarkan dulu menggunakan keping keramik," jelas Dany.

Ia menjelaskan setelah acara rampung pedagang menukarkan keping keramik mereka ke panitia. Keping keramik yang diterima masing-masing pedagang dihitung untuk ditukarkan uang.

Dany mengatakan pasar tersebut rencananya digelar setiap selapan atau 35 hari sekali tepatnya Minggu Legi. Konsep bakal diperbaiki dengan mengharamkan plastik menjadi pembungkus makanan hingga bahan makanan bebas dari pengawet. "Kami ingin bebas plastik dan bebas pengawet. Ini yang akan kami sosialisasikan kepada para pedagang," ungkapnya.

Pada penyelenggaraan perdana pasar tersebut, Dany menuturkan jumlah pengunjung membeludak. Hal itu diindikasikan dari penukaran keping keramik. Panitia menyiapkan 1.000 keping keramik sebgai alat pembelian jajanan di pasar tersebut. Hanya, jumlah tersebut masih kurang lantaran banyaknya warga yang berminat menukarkan uang rupiah mereka dengan keping keramik untuk jajan di pasar tepi sungai itu. "Akhirnya di tengah acara panitia mencari pedagang untuk mendapatkan keping keramik yang sudah diterima agar bisa terus berputar," ungkapnya.

Dany menuturkan pasar itu menjadi salah satu tempat bagi para ibu KPM PKH membuka usaha mereka. Di Melikan, ada 259 KPM PKH.

Kepala Desa Melikan, Eko Purwadi, menjelaskan keping keramik dipilih sebagai alat pembelian jajanan untuk menampilkan ciri khas Desa Melikan. Sebagai informasi, Melikan dikenal sebagai desa perajin gerabah keramik dengan teknik pembuatan menggunakan putaran miring.

Eko menjelaskan ada 30an pedagang yang membuka lapak di Peken Pinggul Lepen tersebut. Seluruh pedagang berasal dari Melikan. "Harapan kami pedagang kecil di Melikan bisa semakin maju. Selama ini dari APB desa kami setiap tahun mencoba memberikan tambahan modal kepada pedagang kecil di desa kami," ungkapnya.

Salah satu pedagang, Sri Ayem, 46, mengatakan paket soto yang ia jual laris manis. Awalnya, ia hanya menyiapkan 100 porsi soto. Namun, ibu dari KPM PKH itu bisa menjual hingga 300 porsi. "Biasanya saya jualan di rumah. Coba ikut buka di sini ternyata laris dengan paket berisi satu mangkuk soto, satu gelas minuman, dan lauk tempe Rp4.000," kata warga Dukuh Bayat, Desa Melikan itu.