5 Makam di Klodran Karanganyar Longsor Dihantam Banjir Kali Pepe

Makam di wilayah Klodran, Colomadu, Karanganyar, longsor dihantam banjir Kali Pepe beberapa waktu lalu. (Solopos - Burhan Aris Nugraha)
18 Maret 2019 15:35 WIB Iskandar Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sedikitnya lima kijing makam di kompleks Makam Dusun Bendungan, Desa Klodran, Colomadu, Karanganyar, rusak parah setelah tanahnya longsor.

Longsornya makan di bantaran Kali Pepe itu terjadi akibat tergerus air bah beberapa waktu lalu. “Beberapa waktu lalu tanah di makam dan sekitarnya sudah pernah longsor, terus sekitar dua pekan lalu longsor lagi dan menghancurkan kijing-kijing ini,” ujar Kepala Dusun Bendungan, Galieh Pradiatno, ketika ditemui di lokasi longsor, Senin (18/3/2019).

Menurut dia, akibat longsor tersebut sekitar 10 kijing rusak, lima di antaranya retak-retak, patah dan hancur karena tanah pijakan makam tersebut longsor ke dasar sungai dengan kedalaman kira-kira lima meter.

Sementara itu, Sekretaris Desa Klodran, Wahyu Jarot, yang juga meninjau lokasi mengatakan total longsor di lokasi dekat makam kira-kira sepanjang 100 meter. Bahkan tanah di luar makam milik warga di bantaran Kali Pepe juga menganga dengan lebar kira-kira 30 sentimeter dan panjang 10 meter.

“Kalau longsor imi tidak segera ditangani saya khawatir akan banyak lagi kijing di makam ini yang hancur. Karena retakan tanah sudah menjorok kira-kira 15 meter dari garis tebing yang longsor dulu,” ujar dia.

Jarot menjelaskan longsor di permakaman itu terjadi setelah rumpun bambu di tepi makam bagian utara yang berimpitan dengan Kali Pepe ditebang karena terkena proyek normalisasi Kali Pepe. Sebagian dinding kali yang semula berupa tanah dibangun dengan konstruksi beton.

Namun sementara ini pembangunan dinding kali dengan konstruksi beton berhenti kira-kira 200 meter di timur makam. Akibatnya tanah permakaman yang rumpun bambunya semula menjadi tameng pelindung hantaman air menjadi gampang longsor.

Sekitar November 2018 lalu pemeirntah desa sudah melaporkan kejadian ini kepada yang berwenang. Namun karena dinilai belum ada respons seperti yang diharapkan, desa kembali mengirim surat ke Pemerintah Kecamatan Colomadu dan Balai PSDA Bengawan Solo.

Diharapkan surat susulan yang dikirim akan mendapat perhatian dari pihat berwenang. “Surat yang kami kirim dulu katanya memang sudah diterima. Tetapi karena di Balai PSDA Bengawan Solo di Solo ada pergantian pimpinan, realisasi perbaikan menjadi tertunda,” kata dia.

Salah seorang warga setempat yang setiap hari beraktivitas di dekat makam, Sugeng, 65, mengatakan longsor yang terakhir hingga mengakibatkan sejumlah kijing hancur diduga terjadi malam hari. Dia mengaku baru tahu pada pagi hari ketika akan beraktivitas di dekat makam.

“Saya memang tidak tahu sendiri kapan longsor itu terjadi. Tetapi yang jelas lima kijing yang hancur ini adalah makam satu keluarga. Ahli waris dari makam itu memunguti tulang-tulang yang tersisa dipindah ke selatan [menjauh dari aliran Kali Pepe],” ujar dia.