Alasan Bawaslu Solo Masifkan Milenial Aktif di Pemilu 2019

Siswa SMA Pangudi Luhur (PL) Santo Yosef Solo bersama anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Solo menampilkan gerakan flashmob saat car free day (CFD), di perempatan Ngarsapura, Solo, Minggu (17/3 - 2019). Aksi flashmob yang diselenggarakan Bawaslu Kota Solo tersebut untuk meningkatkan angka partisipasi Pemilu 2019 dari kalangan generasi milenial. (Solopos/Nicolous Irawan)
19 Maret 2019 21:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Solo masifkan sosialisasi kepada generasi milenial untuk aktif dan berani mengklarifikasi apabila menemukan kabar yang diragukan kebenarannya. Generasi milenial dianggap sebagai generasi muda yang dekat dengan berbagai gadget dan memahami kondisi kekinian.

Ketua Bawaslu Kota Solo, Budi Wahyono, mengatakan generasi milenial berperan penting dalam pesta demokrasi yang digelar satu bulan lagi. Salah satu upayanya dengan mengajak generasi milenial turun ke jalan untuk ikut menyosialisasikan memerangi bahaya hoaks dan pelanggaran kampanye lainnya di area car free day (CFD) Jl. Slamet Riyadi Solo. Acara dikemas dalam suasana kekinian agar lebih menarik masyarakat.

“Temanya sosialisasi pengawasan partisipatif bersama generasi milenial. Peran generasi ini sangat besar, jumlahnya mencapai 70 juta hingga 80 juta orang atau dalam persentase dari seluruh jumlah pemilih mencapai 40 persen. Kami menggandeng siswa SMA Santo Yosef untuk dancing on the street, pentas teatrikal, dan beragam tema yang menarik,” ujar Budi Wahyono kepada Solopos.com, Minggu (17/3/2019).

Menurut dia, Bawaslu Solo menaruh harapan kepada generasi milenial untuk memutus berbagai hal yang mencederai demokrasi seperti ujaran kebencian dan kabar hoaks. Generasi milenial harus berani memberikan klarifikasi, memberikan data yang valid, dan mengecek kebenarannya terhadap berita bohong yang beredar di media sosial. Dengan sikap berani, generasi milenial memiliki tanggung jawab besar kepada masyarakat.

Ia menegaskan generasi milenial tidak hanya click dan share, namun harus dapat memilah dan memilih untuk menyajikan fakta yang benar di masyarakat. Hal itu dapat dimulai dari lingkup terdekat yakni di keluarga. Ia menyadari berkembangnya teknologi saat ini sering dimanfaatkan orang tidak bertanggung jawab untuk menyebar kebencian hingga berita hoaks. Aplikasi pesan instan sering digunakan sebagai cara mudah dalam menyebarkan hoaks. Maka diperlukan peran generasi milenial.

Ia menjelaskan sebagai penyelenggara pemilu sosialisasi akan semakin masif dilakukan. Pekan lalu Bawaslu Kota Solo juga Menyosialisasikan kampanye damai untuk mewujudkan kampanye bersih dan damai. Ia berharap masyarakat juga dapat berperan aktif dalam memutus rantai berbagai pelanggaran-pelanggaran pemilu yang ada.

Koordinator Divisi Hukum, Data, dan Informasi Bawaslu Kota Solo, Agus Sulistyo, mengatakan cara itu merupakan cara untuk mendekatkan pemilih milenial dengan cara-cara yang milenial. Para generasi milenial yang belum memeroleh hak pilih dapat belajar untuk menjadi sosok pengawas partisipatif demokrasi dan pemilu. Ia berharap pemilih milenial tidak hanya pasif namun aktif.