Desa Pranan Polokarto Sukoharjo Fokus Perbaikan Jalan

Pembangunan jalan penghubung antar kampung dikerjakan di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Pembangunan jalan penghubung antar kampung menjadi prioritas dalam APBDes Pranan. Foto beberapa waktu lalu. (Solopos/Indah Septiyaning W.)
19 Maret 2019 11:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Perbaikan infrastruktur saat ini terus digenjot pemerintah desa (Pemdes) Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Perbaikan infrastruktur sebagai upaya menyokong perekonomian warga setempat pun menjadi fokus desa dalam pengalokasian di Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Des).

Seperti halnya pengerjaan proyek fisik mendominasi pelaksanaan kegiatan APB Des 2018. Proyek fisik dikerjakan adalah pembangunan jalan penghubung antar kampung, perbaikan dan pembangunan talud, perbaikan dan pembangunan drainase, perbaikan rumah tidak layak huni dan lainnya.

Kepala Desa Pranan, Jigong Sarjanto, mengatakan saat ini kondisi jalan penghubung antar kampung di wilayahnya 80 persen dalam kondisi baik. Sedangkan 20 persen mengalami kerusakan ringan dan berat. Perbaikan jalan penghubung antar kampung menjadi salah satu skala prioritas desa dalam pelaksanaan program kerjanya. Dengan target, jalan penghubung antar kampung yang semula dalam kondisi rusak dan tak layak menjadi layak dilalui kendaraan. Hal inipun mampu mendongkrak pertumbuhan perekonomian warga yang memang mayoritas adalah pedagang dan petani.

"Jalan antar kampung kita perbaiki, ada yang dicor, ada yang kami aspal dan tambal sulam. Jadi jalan yang ada kondisinya lebih baik dan layak dilalui," katanya ketika berbincang dengan Solopos, Jumat (15/3/2019).

Selain perbaikan dan pembangunan jalan penghubung antar kampung, Jigong mengatakan pemdes mulai memfokuskan kegiatan fisik untuk pembangunan jalan penghubung di area lahan pertanian warga. Sebab selama ini kondisi jalan di lahan pertanian kurang layak dan mengalami kerusakan berat. Padahal jalan tersebut sangat dibutuhkan guna memperlancar akses transportasi saat mengangkut hasil pertanian warga. Hal ini pun akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi warga setempat.

"Saat ini jalan-jalan di area pertanian masih sebatas tanah dan bebatuan. Kondisinya kurang layak, sehingga perlu diperbaiki," katanya.

Pembangunan jalan di area pertanian ini, lanjut Jigong, masuk dalam skala prioritas dalam penyusunan APB Des 2019 yang hingga kini belum rampung disusun pemdes setempat. Selain itu pemdes juga akan membangun talud jalan dan drainase di saluran lahan pertanian. Perbaikan saluran drainase ini dinilai penting sebagai irigasi lahan pertanian warga.

Selain padi, Jigong menambahkan warga Pranan mengembangkan budidaya jambu air sejak 10 tahun yang lalu. Saat ini warga menikmati hasil dari setiap panen jambu air tersebut. Untuk satu tanaman jambu air saja sekali panen bisa dua hingga tiga kuintal. Padahal tanaman jambu air yang tersebar di wilayah Pranan jumlahnya mencapai dua ribu pohon. Untuk harga satu kilogram (kg) jambu air ini pun dijual senilai Rp10.000. Jambu air dari Pranan mampu menyuplai kebutuhan buah-buahan di wilayah Soloraya dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

"Dengan budidaya jambu air ini menjadi potensi bagi Desa Pranan. Kami bahkan menyandang desa buah," kata dia.

Hampir mayoritas penduduk di Desa Pranan selain bertani padi, juga pedagang buah-buahan sebagai mata pencaharian warga setempat. Tak hanya mengembangkan budidaya tanaman jambu air, warga kini mulai mengembangkan tanaman buah lain seperti melon. Hal ini guna mendukung perekonomian warga dan label Desa Pranan sebagai Desa Buah.

Salah satu warga Pranan, Raharjo mengatakan pengembangan jambu air terus dilakukan warga sebagai penyokong ekonomi penduduk. Hasil panen yang diterima cukup memuaskan dan mampu meningkatkan pendapatan warga. "Saya menanam pohon jambu air di pekarangan rumah dan lahan pertanian. Kalau panen lumayan hasilnya," katanya.