3 Bocah Karanganyar Meninggal di Kubangan Bekas Tambang, Pemilik Lahan Minta Maaf

Seorang warga, Sukino, menunjukkan kubangan air bekas Galian C, dusun Banyubiru RT 004/RW 008, Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Senin (18/3/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
19 Maret 2019 20:15 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemilik lahan tambang galian C di Dusun Banyubiru RT 001/RW 008, Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, meminta maaf kepada keluarga tiga bocah yang meninggal di kubangan bekas tambang itu, Senin (18/3/2019) itu.

Pemilik lahan yang bernama Sigit Pramono juga menanggung biaya pemakaman ketiga bocah tersebut. Izin penambangan galian C di tanah tersebut sudah berakhir belum lama ini.

Sigit Pramono langsung menemui keluarga ketiga bocah itu begitu mengetahui kabar duka tersebut. Dia meminta maaf dan memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Saya jelaskan kronologi tahapan kegiatan penambangan. Semua sudah sesuai aturan. Saya juga tidak menginginkan kejadian tersebut. Sudah klir dengan keluarga [korban]. Keputusannya seperti apa kami masih menunggu hasil olah TKP dari kepolisian,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Selasa (19/3/2019).

Sigit sudah mengajukan permohoman pengajuan reklamasi ke Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Jumat (15/3/2019). Dia mengatakan izin tambang tanah uruk itu berakhir sejak awal Maret.

Rencananya, pekan ini akan dilakukan reklamasi. Namun, reklamasi ditunda karena ada kejadian yang menghilangkan nyawa tiga bocah.

“Ada pihak lain datang ke kawasan pertambangan dengan motor trail. Mereka tidak memberi tahu akan memakai lahan kami. Anak-anak tersebut mengikuti motor trail tersebut. Panitia sedang kami cari, kami ingin minta konfirmasi kenapa tidak izin ke pemilik tambang,” katanya.

Dia menjelaskan akses menuju proyek ditutup menggunakan portal yang bisa dibuka tutup. Selama ada kegiatan penambangan di lokai itu baru kali ini dijumpai ada pihak lain yang masuk kawasan proyek tanpa izin.

Sigit mengatakan selama ada aktivitas pertambangan sudah memberikan tanggung jawab sosial berupa dana kepada Dusun Banyubiru senilai Rp190 juta dan memberikan tanah uruk untuk pembangunan desa secara gratis.

Sekretaris Desa Jatikuwung, Heru Susanto, mengatakan Jatikuwung memiliki dua lokasi penambangan untuk tanah uruk yaitu di Dusun Banyubiru dan Dusun Terek. Galian C Banyubiru mulai berjalan sejak tiga tahun lalu.

Namun, pada saat terjadi kecelakaan tidak ada aktivitas penambangan karena masa izin tambang sudah habis. “Untuk proses perpanjangan izin kami kurang tahu. Dulu, desa hanya menerbitkan surat pengantar tanah itu benar ada dan masyarakat setempat mengizinkan dilakukan penambangan,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di kantornya, Selasa.

Heru mengatakan setelah peristiwa tiga bocah meninggal di kawasan galian C, pemilik lahan mendatangi rumah duka dan menanggung biaya pemakaman. Selain itu jalur mediasi masih dibuka oleh semua pihak yang terlibat.

Ketua RT 005 Ngledok, Warno, menjelaskan pemilik lahan sudah mendatangi rumah duka dan memberikan santunan senilai Rp3 juta untuk setiap keluarga. Biaya pemakaman juga ditanggung pemilik lahan. “Masih masa berkabung jadi mediasi belum bisa diselesaikan,” katanya.

Kepala Bidang Penataan dan Pentaatan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar, Retno Damarstuti, mengatakan pengelola penambangan di Banyubiru memiliki izin tambang sejak Agustus 2015 dan berlaku tiga tahun. Izin tambang itu berakhir sejak dua pekan lalu sehingga tidak ada aktivitas.

“Kubangan dibuat untuk menampung lumpur supaya tidak mengalir ke sungai sekitar. Pemilik tambang memiliki kewajiban reklamasi ketika izin selesai supaya lahan bisa menjadi produktif. Rencananya, Senin [18/3/2019] akan direklamasi, tapi karena terjadi kecelakaan reklamasi belum dilakukan,” katanya saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa.