Asyik! Honor Kader Keluarga Berencana Solo Naik 

Ilustrasi Keluarga Berencana (KB). (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
21 Maret 2019 14:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menaikkan honor kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dari Rp50.000 menjadi Rp100.000 tiap bulan per Januari 2019. 

Kenaikan honor diharapkan menjadi stimulan untuk terus bergerak menjaring akseptor program keluarga berencana (KB). Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan jumlah anak tak menjadi persoalan utama, meski semangat KB adalah dua anak cukup. 

Persoalan utamanya adalah penyiapan masa depan anak, tak hanya di bidang pendidikan, tapi juga kebutuhan papan, mengingat luasan Kota Bengawan yang terbatas. 

“Solo ini luasnya cuma 44,4 kilometer persegi, sementara jumlah penduduknya mencapai 520.000 jiwa. Kalau ledakan jumlah penduduk tidak dikendalikan maka bisa jadi enggak ada yang punya rumah sendiri-sendiri. Masak mau tinggal di rumah susun semua, enggak akan sejahtera. Ayo [kader] bekerja betul. Kalau angka ledakan penduduk bisa ditekan, honornya nanti dinaikkan lagi juga bisa karena ada dasar argumentasinya,” kata dia saat ditemui seusai pembinaan kader PPKBD di Pendapi Gede, Kompleks Balai Kota Solo, belum lama ini.

Kader PPKBD merupakan unit terkecil yang bisa menyosialisasikan program KB kepada masyarakat.  Proyeksinya, laju pertumbuhan penduduk pada 2021 mendatang dapat ditekan hingga 0,6 persen. 

Sementara saat ini baru di angka 1,22 persen. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Solo, Purwanti, mengatakan kader PPKBD saat ini berjumlah 667 orang. Honor yang diterima setiap bulan digunakan untuk operasional pendampingan, sosialiasi, dan penyuluhan kepada keluarga.

“Pemberian honor sudah dilakukan sejak 2016, tapi baru naik sekarang. Kader ini berada di tingkat RW, bekerja sukarela, dan dipilih oleh warga setempat,” kata dia. 

Purwanti mengatakan tingkat partisipasi KB di Kota Solo masih jauh dari harapan. Ia menyebut peserta KB aktif hanya 41.444 orang dari 64.117 pasangan usia subur (PUS) atau 64 persen. Tahun ini ditargetkan meningkat 4 persen lagi. 

“Kami mendapatkan peserta KB baru sebanyak 7.911 orang pada 2018. Kendala program ini masih sama ya, kepercayaan banyak anak banyak rezeki, kemudian agama,” kata dia.