Sudah Retak-Retak, Tanggul Bengawan Solo Sragen Masih Dilewati Kendaraan Berat

Truk melintasi jalan yang juga tanggul Bengawan Solo di Sragen, belum lama ini. (Solopos - M. Khodiq Duhri)
21 Maret 2019 22:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tanggul Sungai Bengawan Solo di Dusun Pilang, Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, sudah retak-retak. Meski begitu, tanggul tersebut tetap difungsikan sebagai jalan atau akses kendaraan roda empat maupun dua.

Berbagai jenis kendaraan melintas di tanggul tersebut, termasuk kendaraan berat dan truk. Pantauan Solopos.com di lokasi, Selasa (19/3/2019), retakan itu muncul di permukaan tanggul yang menjadi akses antardesa.

Meski kondisi jalan sudah retal-retak, kendaraan roda empat maupun roda dua lalu lalang di lokasi. Tanggul yang retak-retak tersebut hanya berjarak sekitar dua meter dari talut atau bibir Sungai Bengawan Solo.

Tanggul yang pernah longsor beberapa tahun lalu itu sudah diperbaiki secara permanen. Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sudah membangun talut sebagai penguat tanggul itu.

“Retakan itu sebenarnya sudah muncul lebih dari setahun lalu. Dulu sempat ditutup untuk kendaraan roda empat karena dianggap terlalu membahayakan. Namun, entah kenapa jalan itu kemudian dibuka lagi,” jelas Imam, warga setempat yang ditemui Solopos.com lokasi.

Imam tidak tahu penyebab retaknya permukaan tanggul itu. Dia menduga keretakan tanggul itu dipicu gerusan aliran air di tebing Sungai Bengawan Solo.

“Kalau diperhatikan itu tanah ambles. Tapi, pagar talut itu tidak terlihat ambles. Pagarnya masih cukup kuat. Mungkin di bawahnya ada tanah yang tergerus air,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pilang, Sukisno, membenarkan tanggul itu sudah retak-retak lebih dari setahun lalu. Dia mengaku sudah melaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terkait kondisi tanggul tersebut.

Dia menilai penyebab retakan tanggul itu bukan karena gerusan arus air, melainkan karena kurang padatnya tanah uruk. “Dugaan kami tanahnya kurang. Solusinya ya harus dipadatkan lagi. Kami sudah laporkan ke DPU. Kemarin kami mengutamakan evakuasi rumah yang nyaris roboh karena erosi Sungai Grompol dulu,” ucap Sukisno.