Menteri Puan Maharani Canangkan Sukoharjo Menuju Destinasi Wisata Jamu

Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani (kanan) memukul gong saat pencanangan Sukoharjo menuju destinasi wisata jamu di halaman Gedung Setda Sukoharjo, Senin (18/3 - 2019). (Solopos/Bony Eko W.)
22 Maret 2019 01:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Kabupaten Sukoharjo dipersiapkan menjadi destinasi wisata jamu di Indonesia. Pencanangan dilakukan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, di halaman Setda Sukoharjo, Senin (18/3/2019).

Selama ini, kawasan wilayah Nguter dikenal sebagai sentra industri jamu di Sukoharjo. Di wilayah itu terdapat Pasar Jamu Nguter yang menjadi pusat transaksi jual beli jamu antara pedagang dengan pembeli. Sementara sebagian besar masyarakat Nguter bermatapencaharian sebagai produsen dan penjual jamu.

Sebagian pengrajin jamu memilih merantau ke luar Sukoharjo untuk berjualan jamu seperti di wilayah DKI dan sekitarnya. Sebagian pengrajin jamu lainnya menetap di wilayah Nguter hingga sekarang. Mereka menerima order pembelian jamu dari para pelanggan di luar wilayah Soloraya bahkan Jawa.

Kampung Jamu di Nguter berdiri pada 1965. Kala itu, ada beberapa pengrajin jamu yang membikin racikan obat tradisional untuk mengobati penyakit. Mereka memanfaatkan berbagai tanaman herbal seperti jahe, kunyit, dan kunir sebagai bahan utama jamu herbal. “Jumlah pengrajin jamu makin bertambah seiring dengan tingginya permintaan jamu herbal. Mereka minat menjadi pengrajin jamu lantaran ingin mendapat penghasilan dan menjaga jamu sebagai warisan leluhur,” kata Ketua Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) Sukoharjo, Suwarsi Moertedjo, saat berbincang dengan Espos, Senin (18/3).

Di Sukoharjo, jumlah pengrajin jamu gendong lebih dari 1.000 orang. Mereka tersebar di setiap daerah di Tanah Air. Saat Lebaran, para pengrajin jamu gendong itu mudik ke kampung halaman selama beberapa hari. Sementara pengusaha jamu skala menengah hingga besar berjumlah lebih dari 100 pengrajin. Mayoritas pengusaha jamu merupakan anggota Kojai Sukoharjo.

Rata-rata omzet pengusaha jamu skala besar di atas Rp100 juta per bulan. Saat ini, mereka juga berjualan produk jamu dengan sistem online di era digital. “Kalau omzet penjualan pengusaha jamu skala kecil bervariatif tergantung jumlah produk jamu yang dijual. Prospek bisnis jamu cukup menjanjikan lantaran obat herbal masih menjadi pilihan masyarakat,” ujar dia.

Para pengrajin jamu mampu menjaga eksistensi jamu tradisional selama puluhan tahun terakhir. Demi membentengi keberadaan jamu tradisional, Sukoharjo dicanangkan sebagai destinasi wisata jamu di Indonesia. Hal ini upaya pemerintah mengapresiasi kerja keras dan semangat para pengrajin jamu di wilayah Nguter.

Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, berharap para generasi muda ikut berpartisipasi menjaga eksistensi produk jamu. Mereka diberi edukasi mengenai berbagai jenis dan manfaat tanaman obat tradisional. “Pemkab Sukoharjo selalu memamerkan jamu sebagai produk unggulan saat pameran produk unggulan. Pemerintah juga tak henti-hentinya memberi bantuan dan pembinaan terhadap pengrajin jamu,” ujar dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, mengungkapkan pencanangan Sukoharjo sebagai destinasi wisata jamu bertujuan untuk menggeliatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan perekonomian daerah. Para pelancong bisa berekreasi di sentra industri jamu sembari belajar cara membuat jamu.