Pertarungan Dapil III Boyolali: Strategi PAN dan Golkar Peroleh 1 Kursi di Kandang PDIP

Ilustrasi TPS Pemilu (Solopos - Whisnupaksa)
22 Maret 2019 08:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Sebanyak 60 calon anggota legislatif (caleg) di Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Boyolali akan memperebutkan delapan kursi DPRD lewat 142.414 pemilih pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Kecamatan Karanggede, Wonosegoro, Juwangi, dan Kemusu.

Meskipun PDIP diprediksi tetap sebagai partai paling dominan, namun caleg partai lain tetap tancap gas mantap bergerilya, baik ke potensi massa baru, kalangan milenial, dan jaringan konstituen terdekat.

Seperti diketahui dari delapan kursi pada Pemilu 2014 lalu, PDIP berhasil mengantongi lima kursi di dapil 3 Boyolali.

Kini, tiga orang petahana PDIP bersaing kembali memperebutkan delapan kursi yang tersedia. Sementara, masih ada dua petahana lagi yang kembali ikut dalam kontestasi, yakni Partai Golkar dan Gerindra.

“Dari sana [Pemilu 2014] menunjukkan PDIP sebagai partai penguasa,” ujar Caleg Partai Golkar nomor urut 1 yang juga petahana, Diana Cristiningrum kepada Solopos.com, Rabu (20/3/2019).

Kendati demikian, Diana optimistis Golkar bisa mempertahankan satu kursi bagi Golkar di dapil 3 pada Pemilu 2019. Dia kini mengoptimalkan kampanye di wilayah Kemusu yang juga tempat tinggalnya.

Sementara tiga kecamatan lain tetap dirambah meski tidak begitu masif. Tahun ini, Diana banyak menyasar pemilih milenial. Salah satu caranya dengan aktif melakukan kampanye di media sosial baik Facebook maupun Instagram.

Caleg nomor 1 asal Partai Amanat Nasional (PAN), Pujiadi, menyebutkan partainya menyiasati keketatan persaingan dengan saling sokong antar caleg di dapil yang sama.

“Kami tidak berebut wilayah kampanye sebab sudah ada daerah asal masing-masing, tapi tetap saling membantu antarcaleg PAN,” tutur Pujiadi yang bertempat tinggal di Kecamatan Karanggede ini.

Tokoh Muhammadiyah

Salah satu caranya dengan memperkenalkan nama caleg lain jika salah satu caleg sedang berkampanye. Hal ini diharapkan dapat mendongkrak jumlah pemilih dengan minimal meraup 8.500 suara dengan satu kursi untuk PAN. Terkait strategi ini Pujiadi mengaku belum menyepakati kompensasi bagi caleg yang gagal.

Pujiadi menyebut tantangan terbesar dapil 3 adalah masih maraknya money politics dan keberpihakan sejumlah tokoh masyarakat terhadap partai tertentu. Untuk itu, caleg PAN memperkuat potensi suara di kalangan internal seperti tokoh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Termasuk juga kalangan milenial yang akan mendominasi pemilih.

Dominasi PDIP di dapil ini dipandang sebagai keuntungan bagi caleg nomor 7 PDIP, Joko Santosa. Joko yang merupakan pemain baru di dapil tersebut optimistis bakal lebih mudah mendulang suara.

Tak Dikesampingkan

Mantan Kepala Desa Kauman Kecamatan Kemusu (sekarang masuk Kecamatan Wonosegoro) itu mengaku meski tak memasang target apa-apa namun berharap dirinya tetap bisa mendapatkan kursi. “Namanya juga baru,” ujar dia. Joko menyebutkan alasan dirinya maju dalam Pileg 2019 adalah mandat dari partai.

Untuk itu dalam kampanyenya, Joko melakukan pendekatan kepada warga di lingkungan tempat tinggalnya baik secara personal maupun lewat perkumpulan. “Utamanya di Kemusu untuk yang wilayah lain memperkenalkan diri saja,” kata dia.

Membaca peta kekuatan politik, imbuh Joko, partai lain tak bisa dikesampingkan. Menurutnya kini Gerindra, PKS, dan Golkar menjadi calon kuat. “Untuk memperkuat posisi di masyarakat, saya menerima usulan dan aspirasi apa saja,” kata dia.