Terpengaruh Ajaran Kiamat Sudah Dekat, 11 Keluarga Boyolali Pergi ke Malang

Warga berjalan di depan rumah milik Agus Salim, yang diduga pengikut ajaran kiamat sudah dekat di Andong, Boyolali, Jumat (22/3/2019) pagi. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
22 Maret 2019 15:35 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sejumlah 11 keluarga dengan total anggota 38 orang di Dusun Jengglong, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Boyolali, terpapar ajaran kiamat sudah dekat.

Mereka pergi ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin asuhan Muhammad Romli di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Malang. Anak-anak berusia sekolah bahkan memilih keluar demi mengikuti orang tuanya.

Mereka merupakan pengikut Tarekat Musa yang dibawa seorang warga setempat bernama Agus Salim. Ajaran ini diduga sama seperti yang tersebar di Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Kepala Desa Sempu, Suyatna, menyebutkan isu kiamat sudah dekat ramai di kalangan warga Jengglong sejak 1 Maret lalu kemudian warga secara berangsur-angsur meninggalkan rumah hingga 3 Maret. “Mereka pergi begitu saja, tanpa izin kepada desa atau kadus,” ujar Suyatna didampingi Kadus Jengglong, Nurhadi, saat dijumpai Solopos.com di kantor desa, Jumat (22/3/2019) pagi.

Perginya 11 keluarga itu disebabkan kepercayaan mereka bahwa kiamat yang sebentar lagi tiba akan didahului jatuhnya meteor di wilayah Jawa Tengah serta bencana alam selama tiga tahun berturut-turut.

Beberapa warga pergi ke Malang juga diketahui menjual harta benda mereka seperti tanah dan rumah. “Namun tidak semua, beberapa bisa kami cegah, hla nanti kalau pulang ke Sempu tapi tidak punya apa-apa bagaimana?” imbuhnya.

Menurut cerita Kades, ada juga beberapa keluarga yang pergi bersama-sama membawa gabah sebanyak 14 ton. Gabah itu akan menjadi cadangan makanan selama tiga bulan tinggal di pondok, yaitu Rajab, Ruwah, dan Ramadan.

Pemerintah desa telah melaporkan kejadian yang menimpa warganya kepada Muspika Kecamatan Andong dan Polsek setempat dengan harapan segera ditemukan jalan keluar.

“Jika ada yang mau pergi [ke Malang] untuk alasan beribadah pemerintah desa juga bingung mau melarang,” imbuh dia.

Kades berharap warga yang pergi segera kembali. Sebagian besar di antara mereka masih berusia sekolah, mulai dari SD, SMP, dan SMA. Dia menyayangkan anak-anak yang keluar dari sekolah begitu saja untuk pergi ke Malang padahal ada yang akan menjalankan ujian nasional.

Solopos.com sempat ke Dukuh Jengglong. Di sana, seorang warga, Ismail, menunjukkan rumah bercat hijau yang menurutnya ditinggali Agus Salim. Rumah tersebut terlihat lebih megah dibandingkan rumah-rumah lain.

Namun sudah beberapa pekan rumah tersebut terkunci. Tidak ada aktivitas keagamaan maupun keluarga yang tinggal di sana. Menurut sejumlah warga rumah tersebut sudah menjadi pusat kegiatan keagamaan lebih dari satu tahun.

Namun, tidak ada gelagat aneh yang ditunjukkan dalam ritual keagamaan di sana. “Ya seperti orang nahdliyin pada umumnya, setelah salat zikir dengan keras, tapi tidak ada bacaan yang aneh,” kata dia.

Dari pengamatan pada pintu utama rumah yang terbuat dari kayu terdapat ukiran yang bertuliskan “Musa Mania” dan “Amaliyah Ash-Sholihiyah”. Di jendela kaca juga terdapat sebuah stiker berwarna hijau.

Terdapat tulisan Musa As yang merupakan akronim dari Mulyo, Sugih, Ampuh asal Sendiko Dawuh. Terdapat pula tulisan Arab yang berarti dan kepada Allah lah maka bertawakal orang-orang beriman. Ismail kemudian menunjukkan rumah-rumah milik warga yang ditinggal pergi ke Malang.

Rumah tersebut sepi dan kosong ditinggal pemiliknya. “Namun sebagian belum dijual,” ungkap Ismail yang saat itu ditemani beberapa warga.

Ismail menyayangkan sikap sejumlah keluarga yang pergi ke Malang. “Terlebih yang masih punya anak usia sekolah, seharusnya mereka pulang dan belajar, apalagi yang mendekati ujian nasional,” kata dia.