11 Keluarga Boyolali Pergi Ke Malang Karena Isu Kiamat Sudah Dekat, Ulama: Itu Konyol!

Plakat yang tertempel di depan rumah Agus Salim dan rumah warga pengikut Tarekat Musa di Dusun Jengglong, Desa Sempu, Andong, Boyolali. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
22 Maret 2019 17:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Ulama yang aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Boyolali untuk perwakilan agama Islam, Khoirudin Ahmad, menilai tindakan warga Andong pergi ke Malang demi menghindari kiamat merupakan perbuatan konyol.

“Kiamat itu sudah ada ketentuan dan tanda-tandanya. Namun dari tanda yang ada sekarang belum terlihat kalau kiamat sudah dekat,” ujar Khoirudin saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (22/3/2019).

Dia menambahkan hari kiamat dalam Islam akan terjadi secara bersamaan di seluruh dunia. Karena itu, mengungsi dari kiamat tidak ada gunanya.

Tanda-tanda kiamat kecil, menurut dia, sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad, seperti disia-siakannya amanat, banyak terjadi pembunuhan, dan dominasi fitnah. Namun itu semua tidak bisa dijadikan patokan hari kiamat segara terjadi.

Sementara tanda-tanda terjadinya hari kiamat dijelaskan dalam hadis yang salah satunya diriwayatkan Imam Muslim. Di sana sepuluh tanda kiamat disebutkan di antaranya terbitnya matahari dari barat dan munculnya dajjal.

Sebagaimana diinformasikan, 11 keluarga dengan total anggota 38 orang di Dusun Jengglong, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Boyolali, pergi meninggalkan rumah mereka dan berbondong-bondong menuju Malang karena terpengaruh ajaran kiamat sudah dekat.