Rumah Nyaris Ambruk Karena Tanah Gerak, Warga Dlepih Wonogiri Mengungsi

Petugas BPBD Wonogiri mengecek kondisi retakan tanah di Bangunsari, Dlepih, Tirtomoyo, Kamis (21/3/2019). (Istimewa - BPBD Wonogiri)
22 Maret 2019 19:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tiga warga yang menghuni dua rumah di Bangunsari, Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri, mengungsi sejak Kamis (21/3/2019). Rumah mereka terancam ambruk karena tanah retak.

Tanah di sekitar rumah terus bergerak dan merusak struktur bangunan. Informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (22/3/2019), tiga warga tersebut yakni Karinem, warga RT 001/RW 009, tetangganya, Saijem dan cucunya.

Mereka mengungsi di rumah saudara masing-masing hingga waktu yang belum diketahui. Tanah bergerak mulai terjadi beberapa hari terakhir. Dari waktu ke waktu rekahan semakin lebar dan panjang seiring turunnya hujan.

Sampai akhirnya tanah rumah Karinem juga retak dan mengubah posisi struktur bangunan. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, kepada Solopos.com, Jumat, mengatakan tim sudah mengecek kondisi tanah di Bangunsari.

Saat dicek, lebar rekahan mencapai lebar telapak tangan orang dewasa dan panjangnya mencapai lebih kurang 32 meter. Tanah bergerak turun sedalam 20 cm hingga 30 cm. Retakan melintang hingga menembus bangun rumah Karinem dan mengakibatkan kerusakan di bagian fondasi, tembok retak, struktur tanah tak lagi rata sehingga mengubah struktur bangunan.

“Lokasi tanah bergerak itu di lereng bukit setinggi lebih kurang 280 meter di atas permukaan laut [mdpl]. Retakan mengarah ke rumah Saijem yang berada di bawah rumah Bu Karinem. Untuk menghindari hal-hal tak diinginkan penghuni kedua rumah itu mengungsi ke tempat aman,” kata Bambang.

Dia menduga awalnya rekahan tersebut kecil. Namun, lantaran tak ditangani rekahan semakin besar dan panjang. Hal itu karena celah tanah terisi air hujan. Air di dalam rekahan membuat tanah lembek.

Seiring berjalannya waktu struktur tanah semakin lembek sehingga memicu tanah bergerak turun. Beban tanah yang berat turut meningkatkan pergerakan tanah. Selain mengakibatkan rumah rusak, retakan tanah juga membuat talud jalan dusun bergeser lebih kurang 2 cm.

“Rekahan tanah harus segera ditutup agar air tak masuk ke celah. Selain itu aliran air hujan di lereng bukit harus dialihkan agar tak menuju celah. Kami sudah mengimbau warga melakukan hal itu. Secepatnya kami akan berkoordinasi dengan Badan Geologi Bandung dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral [ESDM] Jawa Tengah agar ada kajian teknis lebih lanjut di lokasi,” imbuh Bambang.

Dlepih merupakan salah satu desa di Tirtomoyo yang rawan terjadi longsor. Bencana paling parah di desa tersebut terjadi 28 Desember 2017 lalu. Wilayah terdampak dan terancam bencana longsor meliputi Ngelo, Bengle, Warak, dan Sumberjo.

Bencana itu mengakibatkan dua warga Bengle RT 001/RW 003 meninggal dunia. Mereka adalah Suyati, 60, dan anaknya, Sriwanti, 45. Selain itu longsor membuat lebih dari 1.000 warga mengungsi.

Tokoh masyarakat Dlepih, Sutarmo, menginformasikan tanah di Bangunsari retak sudah lama dan selalu bergerak ketika hujan mengguyur. Selain di Bangunsari, lereng di Bengle, Warak, Ngelo, dan Sumberjo hingga sekarang masih labil.

Berdasar kajian teknis, potensi longsor di empat dusun itu sangat tinggi, tetapi warga tetap menghuni rumah masing-masing. “Pemkab berupaya merelokasi warga, tetapi ada yang mau ada pula yang enggak mau. Jadi, sampai sekarang relokasi belum bisa terealisasi,” kata mantan Kades Dlepih itu.