Nasib Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang di Solo Memprihatinkan!

Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang dan Pertempuran Kenpetai Surakarta (Instagram/mlampahsolo)
23 Maret 2019 08:00 WIB Chelin Indra Sushmita Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Kota Solo, Jawa Tengah, memiliki berbagai tempat bersejarah, mulai dari monumen hingga berbagai tempat lainnya. Salah satunya adalah Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang dan Petempuran Kenpetai Surakarta. Nah, tahukah Anda di mana lokasi monumen tersebut?

Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang dan Pertempuran Kenpetai berada di Jalan Slamet Riyadi nomor 171 Solo, atau di sebelah barat Wisma Batari. Monumen tersebut viral seusai fotonya diunggah pemilik akun Instagram @jelajahsolo, Kamis (21/3/2019).

Foto itu memperlihatkan kondisi monumen yang kurang terawat. Bangunannya terlihat sangat usang. Lisan pada prasasti yang ada di depan monumen itu sudah mulai pudar. "Ojo lali sejarah lur. Ngerti ini monumen apa? Tempatnya di mana lur? Monumen ini yang menceritakan sejarah besar Kota Solo zaman perjuangan. Kondisinya sekarang memprihatinkan. Semoga habis ini bisa lebih terawat dan dikenal orang Solo," tulis @jelajahsolo yang membagikan ulang foto unggahan @mlampahsolo.

Mengutip laman Monumen Pers Nasional, Jumat (22/3/2019), Monumen Perebutan Kekuasaan Jepang dan Pertempuran Kenpetai diresmikan pada 13 Oktober 1985. Monumen itu didirikan guna memperingati peristiwa Perebutan Kekuasaan dari pemerintah sipil Jepang Koti Jimu Kyoku dari Shochokan Watanabe kepada Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Surakarta, Mr. BPH Soemodiningrat.

Serta penyerahan kekuasaan tentara Jepang dari Komandan Letkol T. Mase kepada KNI Surakarta dan penyerbuan terhadap Markas Kenpetai sebagai beteng terakhir kekuasaan Jepang di Surakarta. Menyerahnya Kenpetai pada 13 Oktober 1945 menjadi tanda berakhirnya kekuasaan Jepang di Surakarta.

Keberadaan monumen tersebut menjadi sorotan warganet. Ada beberapa warganet yang punya kenangan dengan tempat tersebut. Ada pula yang prihatin melihat monumen tersebut terbengkalai. "Dulu mbakku kerja di sana min. Zaman kecilku sepekan sekali renang di sana gratis. Setelah renang diajak ke Sami Luwes, senang sekali," komentar @wahyunurvita.

"Tak bawanya pulang aja kalau Pemkot Solo tidak bisa merawat," imbuh @dhita_saragih.

"Kalau enggak salah, dulu bekas Hotel Cakra bukan ya?" tanya @pranadipashop.

"Dulu padahal sering banget berenang di hotel ini. Kaget juga dulu tahu-tahu kok tutup," imbuh @agriztdheka.

"Barusan lewat, setiap hari lewat. Sempat baca prasastinya. Meski tulisannya hampir enggak terbaca karena luntur kena hujan, panas. Entah sudah berapa tahun ini atau karena operasional hotel berhenti. Tapi, memang sungguh malang nasib prasasti ini. Semoga cepat dapat perawatan yang bagus lagi," imbuh @ayu.diahas07 menimpali.