Riset UI: Penghasilan Pengemudi Gojek Dua Kali UMK Solo

Ilustrasi ojek online (go/jek.com)
23 Maret 2019 11:40 WIB Danang Nur Ihsan Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Lembaga Demografi (LD) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menyebut penghasilan rata-rata pengemudi ojek online Gojek di Jabodetabek Rp4,9 juta/bulan dan di luar Jabodetabek Rp3,8 juta/bulan.

Penghasilan rata-rata pengemudi Gojek (di luar Jabodetabek) itu dua kali lipat lebih dari upah minimum kota (UMK) Solo 2019 yang mencapai Rp1.802.700. Untuk wilayah Jabodetabek, penghasilan rata-rata pengemudi Gojek juga lebih tinggi dari UMK rata-rata wilayah Jabodetabek Rp3,9 juta.

Hal tersebut terungkap dalam paparan hasil riset LD FEB UI bertajuk Dampak Gojek terhadap Perekonomian Indonesia pada Tahun 2018, Kamis (21/3/2019), sebagaimana dikutip Solopos.com dari laman ldfebui.org, Jumat (22/3/2019).

Dalam survei itu sekitar 45% pengemudi Gojek mengaku penghasilan sebulan mereka Rp3,5 juta-Rp6 juta, sekitar 27% berpenghasilan Rp2,5 juta-Rp3,5 juta/bulan, dan sekitar 12% yang mengaku berpenghasilan Rp6 juta per bulan. dalam survei diketahui 75% pengemudi Gojek berusia 21-40 tahun. Untuk tingkat pendidikan didominasi SMA ke bawah yaitu 86% dan 14% merupakan lulusan perguruan tinggi. Dari latar belakang, LD FEB UI menyebut 30% pengemudi Gojek sebelumnya menjadi karyawan di sektor swasta.

LD FEB UI menyebutkan Gojek memberi kontribusi Rp44,2 triliun kepada perekonomian Indonesia. Kontribusi itu mengalami lonjakan bila dibandingkan 2017 lalu yaitu Rp9,9 triliun.

Wakil Kepala LD FEB UI Paksi C.K. Walandouw menjelaskan mengatakan lonjakan kontribusi Gojek menunjukkan teknologi mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi digital.

”Gojek sebagai pemain utama industri teknologi di Indonesia telah menunjukkan kemampuan inovasi teknologinya untuk memperluas peluang penghasilan,” kata dia dalam siaran pers di laman ldfebui.org.

Hasil riset menunjukkan kontribusi mitra Gojek terhadap perekonomian Indonesia yaitu mitra pengemudi Go-Ride (ojek online) Rp16,5 triliun, mitra pengemudi Go-Car (taksi online) Rp8,5 triliun, mitra UMKM Go-Food Rp 18 triliun, dan mitra Go-Life Rp1,2 triliun.

”Kontribusi mitra UMKM Go-Food tahun 2018 naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun 2017. Pertumbuhan kontribusi mitra UMKM Go-Food ini antara lain disebabkan oleh optimalisasi fitur teknologi Gojek yang digunakan oleh mitra UMKM Go-Food,” kata Paksi.

Dia mengatakan dari survei diketahui 93% responden mitra UMKM menyatakan mereka go-online karena bermitra dengan Go-Food. Selain itu, 93% mitra mengalami peningkatan jumlah transaksi dan 55% mitra mendapatkan peningkatan klasifikasi omzet setelah bergabung dengan Go-Food.

”Peningkatan volume dan omzet bisnis memacu mitra UMKM untuk terus mengembangkan usaha mereka. Hal ini ditunjukkan dari 85% responden yang menginvestasikan kembali pendapatannya ke dalam usaha mereka,” sebut Paksi.

Penelitian yang dilakukan November 2018-Januari 2019 itu bertujuan menganalisis dampak sosial dan ekonomi langsung dan tidak langsung yang dihasilkan oleh mitra Gojek terhadap perekonomian Indonesia. Penelitian menyasar 6.732 responden dengan margin of error di bawah 3,5%.