RS Hidayah Boyolali Beberkan Hasil Audit Medis Operasi Amandel Ahsan

Direktur RS Hidayah Boyolali Ida Wulandari, Wakil Ketua Komite Medis Siregar, dan Kepala Satuan Pengawas Internal RS Hidayah Darmawan Wijayanto, memberikan keterangan kepada wartawan di Boyolali, Jumat (22/3/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
23 Maret 2019 08:30 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Hasil Audit Medis Rumah Sakit (RS) Hidayah Boyolali menyatakan operasi amandel yang dilakukan terhadap Muhammad Ahsan Arrosyid, 8, sudah sesuai prosedur.

Seperti diketahui, siswa Kelas I SD asal Dukuh Karangkidul, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, ini meninggal dunia satu jam setelah menjalani operasi amandel di Rumah Sakit Hidayah, Boyolali, Selasa (12/3/2019).

“Kesimpulan hasil audit medis oleh tim pelaksana audit medis adalah tim dokter telah memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi, standar prosedur operasional, dan kebutuhan medis pasien,” ujar Wakil Ketua Komite Medis RS Hidayah, Siregar, kepada wartawan di Boyolali, Jumat (22/3/2019).

Dia menguraikan pelaksanaan standard operating procedure (SOP), diagnosis kerja, rencana tindakan (penunjang), diagnosis pasti, dan terapi sudah sesuai dengan ketentuan.

Dengan hasil tersebut, RS Hidayah berharap kasus ini tidak menyurutkan para dokter untuk tetap melakukan tugas-tugas melayani pasien dengan tetap patuh kepada SOP dan standar pelayanan medis (SPM) masing-masing. Dia juga berpesan agar komunikasi yang baik harus diutamakan antara dokter dengan pasien.

“Selain itu, masyarakat tetap harus kritis tanpa menghilangkan respek terhadap dokter,” imbuhnya.

Kepala Satuan Pengawas Internal RS Hidayah Darmawan Wijayanto menambahkan pelaksanaan audit bersifat objektif, independen, dan memperhatikan aspek kerahasiaan pasien dan wajib menyimpan rahasia kedokteran.

“Audit medis ini kami lakukan dengan objektif dan hasilnya ada sembilan halaman yang intinya seperti yang disampaikan dokter Siregar, semua sudah sesuai ketentuan,” kata dia dalam jumpa pers yang dihadiri pejabat Humas Agung Susilo dan pejabat lainnya itu.

Sementara itu, Direktur RS Hidayah Ida Wulandari mengatakan terkait hasil audit tersebut, meninggalnya Ahsan diperkirakan karena kekurangan oksigen akibat adanya obstruksi (sumbatan) di saluran pernapasan dan merupakan risiko medis yang bisa saja terjadi dalam sebuah penanganan/tindakan.

“Audit medis sudah dilakukan dan hasilnya semua sesuai alur dan prosedur. Namun memang kemudian ada hal tak terduga yakni Ahsan meninggal dunia. Dugaannya karena ada sumbatan di saluran napas. Ada dua dugaan penyebab sumbatan ini, yakni aspirasi cairan dan bisa karena reaksi alergi obat yang lambat [delayed],” ujarnya.

Hasil audit medis ini sudah disampaikan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) selaku pengawas rumah sakit serta keluarga pasien. “Kami juga sudah ke datang ke rumah keluarga [Ahsan] untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus menyampaikan hasil audit medis ini. Meskipun keluarga menyampaikan unek-unek mereka, mereka menerima kami dan menerima kenyataan ini,” imbuhnya.

“Kami berharap [pertemuan dengan wartawan] ini sekaligus menjadi closing statement [pernyataan penutup] dari rumah sakit atas kasus tersebut,” lanjutnya.

Kepala Dinkes Boyolali Lina S. Survivalina belum memberikan keterangan. Sedangkan kakak kandung Ahsan, Fajar Saefudin, juga belum dapat dihubungi untuk dimintai tanggapannya.