Pengikut Ajaran Kiamat Sudah Dekat di Boyolali Bikin Warganet Gregetan

Plakat yang tertempel di depan rumah Agus Salim dan rumah warga pengikut Tarekat Musa di Dusun Jengglong, Desa Sempu, Andong, Boyolali. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
24 Maret 2019 10:00 WIB Chelin Indra Sushmita Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI – Sekitar 11 keluarga dengan total anggota 38 orang di Dusun Jengglong, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Boyolali, terpapar ajaran kiamat sudah dekat. Ironisnya, mereka pergi ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin asuhan Muhammad Romli di Susun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kesambon, Malang, Jawa Timur.

Mereka merupakan pengikut Tarekat Musa yang dibawa seorang warga setempat, Agus Salim. Ajaran ini diduga sama seperti yang tersebar di Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, Jawa Timur. Bukan hanya orang dewasa, ajaran ini juga diikuti sejumlah anak-anak yang memilih keluar demi mengikuti orang tua.

Fenomena unik dan menyedihkan ini menuai komentar warganet. Sejumlah komentar tersebut disampaikan melalui fanpage Solopos.com, Sabtu (23/3/2019). “Emang kalau kiamat cuma Boyolali saja, terus kalau sudah pindah ke Malang sana enggak kiamat? Semprol jo jo,” komentar Darmadi Adi.

Hahahaha, apa kiamat itu hanya di Boyolali saja woy. Semuanya yang hidup di dunia ini akan terkena semua. Intinya, mau lari ke mana pun enggak bakal selamat. Entah itu kapan akan datang kiamat. Semoga kita tidak melihat kiamat, karena kiamat itu mengerikan,” sambung Nafis Muhammad Izzul.

Inilah wajah kita. Ketika sudah merasa dekat dan kenal sama Tuhan. Mereka pandai mengarang. Sedangkan nabi pun tidak tahu pastinya. Hari penentuan kiamat walaupun tanda-tanda atau mendekati itu diberi tahukan. Semoga kita ke depan tidak mudah percaya dengan hal-hal yang menyesatkan,” sambung Komed Soebroto.

Ajaran menebak-nebak kuasa Tuhan?” tanya Adi Pangemanann.

Semoga mereka kembali ke jalan yang benar, amin,” imbuh Ardy Ari Santosa.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, Kepala Desa Sempu, Suyatna, menyebut, isu kiamat sudah dekat ramai di kalangan warga Jengglong sejak 1 Maret 2019. Warga secara berangsur meninggalkan rumah mereka hingga 3 Maret 2019. Mereka pergi begitu saja tanpa izin dari Kepala Dusun Jengglong, Nurhadi.

Perginya 11 keluarga itu disebabkan kepercayaan mereka bahwa kiamat yang sebentar lagi tiba akan didahului jatuhnya meteor di wilayah Jawa Tengah serta bencana alam selama tiga tahun berturut-turut. Beberapa warga pergi ke Malang juga diketahui menjual harta benda mereka seperti tanah dan rumah. Menurut cerita Kades, ada juga beberapa keluarga yang pergi bersama-sama membawa gabah sebanyak 14 ton. Gabah itu akan menjadi cadangan makanan selama tiga bulan tinggal di pondok, yaitu Rajab, Ruwah, dan Ramadan.

Pemerintah desa telah melaporkan kejadian yang menimpa warganya kepada Muspika Kecamatan Andong dan Polsek setempat dengan harapan segera ditemukan jalan keluar. Kades berharap warga yang pergi segera kembali. Sebagian besar di antara mereka masih berusia sekolah, mulai dari SD, SMP, dan SMA. Dia menyayangkan anak-anak yang keluar dari sekolah begitu saja untuk pergi ke Malang padahal ada yang akan menjalankan ujian nasional.