7.000 Dosis Vaksin Antraks Siap Disuntikkan Ke Hewan Ternak Boyolali

Petugas Disnakkan Boyolali memasang eartag pada sapi perah di Desa Singosari, Mojosongo, Boyolali, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Disnakkan Boyolali)
24 Maret 2019 17:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Alokasi vaksin antraks untuk hewan ternak di Boyolali pada 2019 ini bertambah menjadi 7.000 dosis. Jumlah ini meningkat 2.000 dosis dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 5.000 dosis.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali, Afiany Rifdania, mengatakan dengan peningkatan jumlah vaksin tersebut, cakupan vaksin bagi ternak sapi ini semakin luas.

Seperti tahun sebelumnya, vaksin ini akan diprioritaskan bagi sapi-sapi di daerah endemis, seperti Simo, Klego, dan Andong. “Tahun ini pemerintah pusat melalui Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan 7.000 dosis vaksin antraks. Nanti akan kami prioritaskan dulu untuk sapi-sapi di daerah endemis dalam dua tahap. Tahap pertama nanti April, tahap berikutnya menyesuaikan,” ujarnya, Sabtu (23/3/2019).

Menurutnya, di Kecamatan Simo kasus antraks terjadi pada 2012, sedangkan di Kecamatan Klego dan Kecamatan Andong kasus antraks lebih dulu muncul. Sejak 2012, tidak ada lagi temuan kasus hewan kena antraks di Boyolali.

Meskipun demikian, langkah antisipasi dengan vaksinasi terus dilakukan setiap tahun. “Setelah kasus terakhir di Simo, sampai sekarang kami masih rajin memvaksin sapi-sapi untuk mengantisipasi timbulnya kembali penyakit tersebut,” imbuhnya.

Afiani mengatakan dengan adanya vaksinasi ini, sapi yang ke luar Boyolali sudah lebih kuat terhadap ancaman penyakit ini. Demikian pula dengan sapi-sapi yang masuk ke Boyolali yang terkena cakupan vaksin tidak rentan lagi terhadap antraks.

“Memang sapi-sapi ini ada yang diperjualbelikan sehingga ada yang masuk dan ada yang keluar. Yang keluar Boyolali malah sehat, sedangkan yang masuk tetap kami vaksin,” imbuhnya.

Antraks adalah penyakit menular yang disebabkan mikroba Bacillus anthracis yang hidup di tanah. Penularan kepada manusia dapat terjadi dengan menghirup spora antraks atau mengonsumsi daging hewan berpenyakit antraks.

Sampai saat ini tidak ada bukti medis yang menunjukkan bakteri penyebab antraks dapat menular antarmanusia. Namun orang yang sehat memiliki kemungkinan tertular jika dia memiliki luka di kulit dan bersentuhan secara langsung dengan luka pada kulit penderita antraks.