Pelajar di Sragen Minta Pemerintah Sediakan Bus Sekolah

Ilustrasi bus sekolah. (Dok)
25 Maret 2019 15:01 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Sejumlah pelajar di Sragen meminta pemerintah menyediakan bus sekolah untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas.

Permintaan tersebut disampaikan para pelajar karena angka kecelakaan di Sragen 2018 tertinggi kedua di Jawa Tengah. Generasi milenial menjadi korban terbanyak.

Ratri, 16, salah satu pelajar SMKN 2 Sragen, saat berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini, menyampaikan perlunya bus sekolah di Sragen yang menghubungkan antardaerah. Ratri yang tinggal di Sambungmacan, Sragen, membutuhkan transportasi karena jarak Sambungmacan di ujung timur Sragen dengan Kota Sragen cukup jauh.

“Selama ini saya diantar. Kalau jam mepet biasanya labil. Seandainya ada bus sekolah bisa menunjang kami berangkat sekolah agar tidak terlambat. Yang menyediakan ya pemerintah kalau sekolah tidak mampu. Bus sekolah bisa menekan angka kecelakaan lalu lintas dengan korban pelajar,” ujar dia.

Pelajar SMA asal Jamus, Kedawung, Wulan, 16, juga membutuhkan bus sekolah karena jarak antara Jamus ke Sragen kota cukup jauh. Dia berpendapat keberadaan bus sekolah dapat mengurangi penggunaan kendaraan bermotor sehingga bisa mengurangi polusi udara. “Di sisi lain juga bisa menekan angka kecelakaan lalu lintas,” kata Wulan.

Sementara itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat ditemui Solopos.com di sela-sela memberi makan burung merpati di Alun-alun Sragen, Senin (18/3/2019), mengatakan pengadaan bus sekolah yang menjadi permintaan pelajar harus dikaji dulu. Kajian tersebut diperlukan untuk melihat efektivitas bus dalam mengurangi angka kecelakaan lalu lintas.

“Pengadaan bus sekolah itu sempat menjadi pembicaraan, tetapi belum kami realisasikan. Wacana bus sekolah sudah beberapa kali muncul, terutama saat saya melakukan TKD [Tilik Kembang Desa] dengan mengunjungi SMP-SMP. Problemnya anak-anak SMP yang naik motor tanpa memakai helm. Kami meminta sekolah mengimbau anak tidak mengendarai motor ke sekolah. Faktanya jarak rumah pelajar ke sekolah jauh,” ujar dia.

Upaya edukasi kepada orang tua siswa agar melarang anak yang belum cukup umur naik motor, menurut Bupati belum cukup. Bupati optimistis Dinas Perhubungan Provinsi Jateng dan Kementerian Perhubungan dapat memberi bantuan bus sekolah. “Sragen belum mampu mengadakan bus itu. Yang penting dikaji dulu. Nanti Dishub Sragen serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen duduk bersama untuk mengkajinya. Nanti pasti muncul rupiah yang dibutuhkan,” kata Yuni.