Merapi Muntahkan Awan Panas 5 Kali, BPBD Klaten: Hujan Abu Nihil

Plt Kepala BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, memantau kondisi Gunung Merapi dari kamera closed circuit television (CCTV) di Pusdalops BPBD Klaten, Sabtu (2/3 - 2019). (Solopos/Ponco Suseno)
25 Maret 2019 19:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas, Senin (25/3/2019). Guguran awan panas yang terjadi beberapa kali tersebut mencapai pada jarak kurang dari 3 km dari puncak Merapi.

Berdasarkan keterangan dari akun resmi Twitter BPPTKG, guguran awan panas terjadi sekitar lima kali yakni pukul 04.24 WIB, 06.17 WIB, 08.58 WIB, 10.52 WIB, dan 12.14 WIB. Durasi guguran 90 detik hingga 120 detik dengan jarak luncur 900 meter-1.000 meter ke arah hulu Kali Gendol.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, mengatakan meski guguran kembali terjadi beberapa kali, kejadian itu tak memengaruhi aktivitas warga. Hingga Senin sore, BPBD tak menerima laporan tentang guyuran hujan abu akibat guguran tersebut.

“Guguran awan panas pada hari ini memang lebih sering dibanding beberapa hari terakhir. Namun, tidak ada laporan dari sukarelawan soal dampak dari guguran hari ini. Kondisinya masih terkendali dan warga masih beraktivitas seperti biasa,” kata Dodhy saat dihubungi Solopos.com, Senin.

Status Merapi hingga kini masih level waspada. Status tersebut bertahan selama 10 bulan terakhir sejak BPPTKG menetapkan pada 21 Mei 2018. Dodhy menjelaskan BPBD tetap berpatokan pada keterangan resmi dari BPPTKG.

“Ikuti saja maunya Merapi bagaimana. Hingga kini status dan rekomendasi belum ada perubahan. Yang jelas kami terus mempersiapkan diri. Dalam hal ini, fokus BPBD mempersiapkan diri untuk antisipasi ketika harus ada evakuasi ke pengungsian,” urai dia.

Dodhy menuturkan selama ini pertemuan desa penerima dengan desa penyangga dalam konsep desa paseduluran hampir saban hari dilakukan secara bergiliran. Pertemuan itu di antaranya membahas update data jumlah warga terutama kelompok rentan hingga pengecekan lokasi yang disiapkan jika sewaktu-waktu ada pengungsi.

Selain itu, BPBD berencana menggelar simulasi secara internal untuk memastikan kesiapan pegawai serta sukarelawan BPBD. “Jangan sampai ketika terjadi bencana justru personel BPBD yang kebingungan,” urai dia.