Dana LKMA Gapoktan Setyo Subur Karanganyar Macet

Anggota staf Kecamatan Colomadu, Suyono (tiga dari kiri) mewakili Camat Colomadu, Yophy Eko Jatiwibowo, memberi sambutan pada RAT Tutup Buku tahun 2018, LKMA Gapoktan Setyo Subur di Gajahan, Jumat (22/3/2019). - Iskandar
25 Maret 2019 02:15 WIB Iskandar Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Tunggakan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Gapoktan Setyo Subur, Desa Gajahan, Colomadu, Karanganyar mencapai Rp105 juta. Dana Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dari pemerintah tersebut mandek di sejumlah warga yang meminjam karena belum mengembalikan.

Dengan demikian praktis jalannya lembaga keuangan ini terseok-seok. “Dulu pada 2011 pemerintah mengucurkan dana senilai Rp100 juta. Tetapi dana itu sudah dipinjam beberapa warga baik petani, mereka yang mempunyai usaha seperti buka warung, dagang sayuran dan sebagainya sampai saat ini banyak yang belum mengembalikan,” ujar Ketua LKMA Setyo Subur, Soetarno, ketika ditemui seusai Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tutup Buku tahun 2018, LKMA Gapoktan Setyo Subur di kediamannya di Gajahan, Jumat (22/3/2019).

Menurut dia, macetnya pengembalian uang pinjaman dari para peminjam karena kurangnya kesadaran dalam mengembalikan pinjaman. Para peminjam dinilai mampu mengembalikan uang pinjaman, namun nyatanya sampai saat ini banyak yang belum mengembalikan.

Saat ini, ujar dia, total jumlah anggota LKMA Gapoktan Setyo Subur sebanyak 85 orang. Sebenarnya pihaknya juga telah meminta kepada mereka yang meminjam agar segera mengembalikan pinjaman. Beberapa di antara mereka baru mengembalikan ketika sudah meninggal dunia. “Jadi ketika peminjam yang belum mengembalikan meninggal dunia, keluarganya baru melunasi. Hla apa kalau melunasi utang ndadak harus meninggal dulu?” kata Soetarno.

Sementara itu Pembina Mitra Tani Karanganyar, Paryanto, berharap persoalan yang membelit LKMA Gapoktan Setyo Subur segera bisa diselesaikan. Untuk itu gapoktan diimbau bekerja sama dengan pemerintah desa.

“Karena bagaimana pun perangkat desa mempunyai peran besar di suatu desa. Ibaratnya perangkat desa itu lokomotif di desa. Kalau lokonya berjalan baik, gerbongnya akan mengikutinya,” ujar dia.

Jika LKMA ini berjalan dengan baik akan banyak mendatangkan manfaat. Dia mencontohkan PUAP di Desa Buntar, Mojogedang, maju pesat. Dari kucuran dana Rp100 juta yang dikucurkan pemerintah, saat ini berhasil dikembangkan hingga mencapai Rp1,2 miliar lebih.

Dana tersebut dipinjam warga dan para petani untuk berbagai keperluan. Bagi para petani dana itu di antaranya untuk membeli pupuk, menggarap lahan, jual beli hasil pertanian dan sebagainya.

Sedangkan untuk warga lainnya dana itu digunakan untuk usaha membuka warung makan. Jumlah anggota LKMA di Buntar berkisar 120 orang. “Keberhasilan di Buntar karena anggotanya disiplin dalam utang dan mengembalikan. Memang setiap daerah beda-beda sesuai kultur masing-masing daerah tersebut.”