Warga Desa Tiyaran Sukoharjo Bentuk Bank Sampah

Pengurus bank sampah di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, memperlihatkan sampah nonorganik berupa botol bekas air kemasan dan sampah plastik, Jumat (24/8 - 2018). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)
27 Maret 2019 03:30 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO--Permasalahan sampah yang tidak mampu dikelola secara maksimal menjadi keprihatinan warga Dukuh Tambakrejo, Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, Sukoharjo.

Warga akhirnya sepakat membentuk bank sampah dan mampu menyokong perekonomian warga setempat. Bank Sampah tersebut menerima tabungan dari warga berupa sampah anorganik.

Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tiyaran, Arimulat Budiwati, mengatakan sampah anorganik yang dikumpulkan warga kemudian dijual kembali hingga menghasilkan pemasukan bagi warga. Adapun berbagai jenis sampah yang bisa disetorkan antara lain kardus, duplex, botol air mineral, botol kaca, kertas, besi, wadah plastik, sak semen, pipa bekas, dan alat rumah tangga lainnya.

Selain itu, beberapa jenis sampah dapat didaur ulang menjadi kreasi yang dapat dimanfaatkan, seperti tas dari bungkus kopi, bros, dompet, keset dari kain perca,; lampion dari sendok plastik bekas, dan lainnya. "Dengan adanya kegiatan ini warga dapat mengurangi banyaknya sampah yang terbuang sia-sia," katanya saat berbincang dengan Solopos, Sabtu (23/3/2019).

Dia mengatakan terhitung setiap tahun mencatat hampir 2 ton sampah anorganik yang dapat dikelola oleh Bank Sampah Seruni. Saat ini, menurut dia, perlu adanya kesadaran masyarakat yang tinggi agar bank sampah bisa berjalan secara konsisten. Setiap warga diharapkan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan karena dampak sampah yang dibuang dengan cara yang tidak bijak akan dirasakan juga pada anak cucu.

Sampah-sampah anorganik seperti plastik butuh puluhan bahkan ratusan tahun agar dapat terurai. Akan menjadi permasalahan yang besar apabila warga tidak melakukan sesuatu untuk menghindari ancaman sampah yang dapat mencemari lingkungan .

"Kami terus menyosialisasikan pengelolaan sampah dalam rapat-rapat RT maupun RW dukuh lain di Desa Tiyaran. Hal itu cukup menarik perhatian warga dan menyadarkan arti pentingnya kepedulian lingkungan yang salah satu solusinya adalah membentuk bank sampah di lingkungan masing-masing," katanya.

Kepala Desa Tiyaran, Sunardi, mengimbau kepada ketua RT agar membentuk bank sampah di masing-masing wilayahnya. Pihaknya berharap masyarakat jangan membuang sampah sembarangan, utamanya di sungai. Sampah harus dikelola dengan baik. "Sekarang bukan zamannya lagi bak sampah, tetapi bank sampah," katanya.

Hingga akhir 2018, pihaknya tercatat ada delapan bank sampah se-Desa Tiyaran yang sudah memiliki Surat Keputusan (SK) Kepala Desa. Enam bank sampah di antaranya sudah terdaftar di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo. DLH Sukoharjo juga memberi perhatian pada kegiatan pengelolaan sampah yang dikelola oleh masyarakat Desa Tiyaran. Berbagai bantuan disalurkan untuk dimanfaatkan masyarakat sekitar lingkungan RT tersebut, antara lain alat biopori, bibit tanam, rak tanaman, timbangan, dan lainnya.

"Beberapa pengurus sering diundang dalam acara yang diselenggarakan oleh DLH dan mengikuti study banding," katanya.

Dalam mengembangkan kegiatannya, DLH Kabupaten Sukoharjo menjembatani DLH Provinsi Jawa Tengah dalam pengelolaan sampah oleh Bank Sampah Seruni untuk mendapatkan bantuan sarana prasarana berupa mesin pencacah sampah, gerobak sampah, komposter dan lain-lain. Kedepannya, warga di Tambakrejo RT 001/RW 001 akan mengelola sampah organik agar dapat dijadikan pupuk dengan memanfaatkan sarana prasarana yang diberikan oleh pemerintah provinsi.

"Jadi sampah yang selama ini dianggap sebagai barang yang tidak berguna, tetapi dengan kesadaran, kekompakan, konsistensi, dan dukungan pemerintah, sampah bisa dikelola dengan baik dan dapat memberi manfaat," katanya.