Barongsai dan Reog Ponorogo, Hiburan Baru Bagi Pengunjung Wanawisata WKO Boyolali

Tiga barongsai beratraksi di tepi Waduk Kedung Ombo (WKO). Kesenian rakyat menjadi hiburan rutin bagi pengunjung WKO di hari Minggu pertama tiap bulan. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa - Dokumentasi Wanawisata WKO)
28 Maret 2019 02:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Jika lazimnya Barongsai kerap ditemui saat acara Imlek atau perayaan khas warga Tionghoa, lain halnya dengan tiga barongsai yang menggelar atraksi di kawasan Wanawisata Waduk Kedung Ombo (WKO), Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali.

Selama lima jam mulai pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB, tiga buah barongsai yang masing-masing dimainkan dua orang tak berhenti menghibur para pengunjung di tepi waduk. Mereka berjalan berkeliling, berdiri, dan melompat ke beberapa sisi.

Ketiganya menari bersama sejumlah pemain Reog Ponorogo. Mereka merupakan anggota kelompok seni Mustiko Joyo pimpinan Budi Wiyanto asal Dukuh Gadoh, Desa Sendangharjo, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan. 

Kelompok Mustiko Joyo menjadi langganan hiburan rakyat di berbagai acara di wilayah Grobogan dan Boyolali utara. Kelompok seni ini pulalah yang rutin mengisi hiburan rakyat di WKO dua kali berturut-turut sejak Maret lalu. Mustiko Joyo akan tampil kembali di WKO Minggu, 7 April nanti.

Kesenian rakyat akan menjadi agenda rutin di hari Minggu pertama tiap bulan di WKO. Agenda ini dirancang pengelola kawasan wisata sejak dikelola secara mandiri oleh badan usaha milik desa (BUM Desa) Wana Mandiri, Desa Wonoharjo. 

Pengelola wanawisata WKO, Pujiyanto, mengatakan kesenian rakyat menjadi wajah baru WKO setelah dikelola BUM Desa. Sebelumnya, WKO dikelola Perum Perhutani KPH Telawa sebelum dikontrak selama dua tahun oleh pihak desa mulai awal tahun 2019 lalu.

“Kami ingin membuat kegiatan yang berbeda, salah satunya dengan menghadirkan kesenian rakyat yang belum pernah ada di WKO,” tutur Pujiyanto ketika berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini.

Selain ide dari pengelola wanawisata, pengunjung bisa memberikan usulan terkait jenis kesenian yang akan ditampilkan. “Yang jelas kesenian rakyat akan rutin tampil tiap hari Minggu pertama tiap bulan,” kata dia.

Ide Segar

Meski memiliki hiburan tambahan, tiket masuk ke WKO tak berubah. Pengunjung cukup membayar Rp5.000 per orang ditambah dengan biaya parkir kendaraan senilai Rp1.000 untuk motor, Rp2.000 untuk mobil, dan Rp5.000 untuk bus atau truk.

Sementara di akhir pekan tiket masuk per orang meningkat menjadi Rp7.500.

Salah satu pengunjung wanawisata, Sri Winarni, 40, menyebutkan penambahan sarana hiburan berupa kesenian rakyat bisa menjadi ide yang segar.  “Apalagi untuk warga lokal yang lumayan sering datang, jadi butuh hiburan baru,” kata dia.