Nenek-Nenek Kenaiban Klaten Tercebur Sungai Ditemukan

Evakuasi nenek-nenek terjebur sungai di Kenaiban, Kecamatan Juwiring, Klaten, Rabu (28/3 - 2019). (Istimewa)
28 Maret 2019 19:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/Iskandar Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Seorang nenek-nenek asal Desa Kenaiban, Kecamatan Juwiring, Klaten, yang menghilang diduga tercebur ke Sungai Pusur, Selasa (26/3/2019), akhirnya ditemukan.

Nenek atas nama Arjo Inangun, 78, warga Dukuh Kebongede, Desa Kenaiban, itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di Sungai Pusur wilayah Dukuh Jetak, Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Kamis (28/3/2019).

Arjo ditemukan sukarelawan sekitar pukul 09.50 WIB dengan posisi tubuh tersangkut sampah di sungai. Para sukarelawan dari lintas organisasi sudah mencari nenek-nenek itu selama tiga hari terakhir.

Mereka kemudian membawa jenazah Arjo ke rumah duka. Jenazah Arjo dimakamkan sekitar pukul 13.00 WIB. Salah satu petugas SAR Klaten, Irwan Santosa, mengatakan Nenek Arjo ditemukan sekitar 1,25 km dari lokasi terakhir nenek-nenek itu terlihat di Jembatan Bubrah.

Arjo ditemukan saat petugas memulai pencarian pada hari ketiga, Kamis. "Rencana operasi hari ini kami penyisiran sampai muara sungai di Bengawan Solo. Kami bagi tim untuk memastikan lokasi betul-betul bersih. Namun, kami mendapatkan informasi korban sudah ditemukan," jelas Irwan yang menjadi komandan lapangan operasi pencarian tersebut.

Pencarian Arjo dilakukan sejak Selasa siang. Tim operasi yang terlibat berasal dari berbagai komponen SAR gabungan yakni SAR Klaten, TRC BPBD Klaten, MDMC, Rescue Klaten Timur, PMI, SAR MTA, KRI, Banser Serba Guna, Semut Geni, Basarnas, SKAT Klaten, IDERU, SAR Sukoharjo, Relawan Rajawali Solo, BPBD Boyolali, SAR HNC Lanud Adisumarmo, serta Anak Gunung Lawu.

Irwan mengatakan kendala pencarian tersebut yakni minimnya keterangan soal kepastian Arjo tercebur sungai. "Kendala medan tidak ada. Arus air sungai juga tenang. Kendalanya pada informasi yang sangat minim. Tidak ada saksi yang memastikan dia masuk ke sungai," kata dia.

Lantaran hal itu, pencarian dilakukan dengan dua metode. Selain menyusuri alur sungai, tim penyelamat mencari di darat meliputi sawah, perkampungan, serta sumur. "Kami mencari di darat pada radius 300 meter," urai dia.

Salah satu warga Desa Tanjung, Ny. Surip, 40, mengatakan jenazah Arjo ditemukan dalam posisi punggung terlihat di permukaan air. "Saat itu saya sedang berangkat ke sawah dan melihat ada jenazah terapung di sungai. Tidak lama kemudian, ada sukarelawan yang datang dan mengangkat jenazah korban," ungkapnya.

Anak Arjo, Suratmi, 45, mengatakan ibunya menghilang sejak Selasa pukul 01.15 WIB. "Pukul 00.00 WIB itu saya selesai mengganti popok dan ibu minta air panas. Setelah itu saya tidur. Sekitar pukul 01.15 WIB saya terbangun dan hanya melihat tongkat yang biasa dibawa ibu untuk membantu berjalan tergeletak di samping pintu," urai dia.

Mendapati sang ibu tak ada di rumah, Suratmi panik dan meminta bantuan warga. Dalam pencarian itu, ada warga yang mengaku melihat seseorang tidur di Jembatan Bubrah tak jauh dari tempat tinggal Arjo sekitar pukul 01.00 WIB.

"Hanya, warga itu mengiranya yang tidur itu orang dengan gangguan kejiwaan," ungkapnya.

Suratmi menuturkan lantaran ibunya tak kunjung ditemukan, pencarian lantas dibantu sukarelawan dari berbagai unsur. "Selama ini ibu saya tidak pernah pergi ke mana-mana. Karena sudah sepuh, jalannya sudah sempoyongan," ungkapnya.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan Lanud Adi Soemarmo, Kapten (Sus) Mugiyanto mewakili Danlanud Adi Soemarmo, Kolonel (Pnb) Indan Gialng B., dalam siaran pers menyabut ada empat personel Lanud Adi Soemarmo yang tergabung dalam Tim Search And Rescue (SAR) Human Nature Care (HNC) Lanud Adi Soemarmo, Colomadu, Karanganyar, yang diterjunkan untuk mencari Arjo di Kenaiban.