Akses ke Air Terjun Melati Wonogiri Mulai Ditata

Pengunjung berfoto di bawah air terjun Banyu Anjlog di kompleks Air Terjun Melati (ATM), Melati, Keloran, Selogiri, Minggu (13/12/2015). - Bayu Jatmiko Adi
28 Maret 2019 12:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI--Pemerintah Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, mulai fokus mengembangkan Air Terjun Melati (ATM) sebagai salah satu destinasi wisata unggulan . Tahun ini, Pemdes Keloran menggelontorkan Rp200 juta dari dana desa untuk membuka akses agar pengunjung lebih mudah ke ATM.

ATM memiliki tujuh air terjun yang legendaris. Maka tak heran objek wisata ini banyak dikunjungi orang untuk berfoto-foto. Banyak juga sekolah yang memanfaatkan untuk kegiatan kepramukaan.  Selain air terjun, pemandangan alam sepanjang perjalanan menuju air terjun sangatlah memukau. Hal itulah yang menjadi poin penting keberadaan kawasan ATM perlu ditata. “Selama ini pengunjung harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari Dusun Melati ke lokasi air terjun. Buat sebagain orang itu melelahkan, sebagian lagi akan bilang menyenangkan karena ditemani pemandangan yang indah,” kata Kepala Desa Keloran, Sumaryanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (25/3/2019).

Selain penataan kawasan ATM, Pemdes Keloran juga mengalokasikan perbaikan lapangan sepak bola senilai Rp50 juta, perbaikan tujuh rumah tak layak huni masing-masing Rp10 juta, penyediaan fasilitas listrik untuk 10 rumah masing-masing Rp1 juta, dan penyediaan sarana sanitasi untuk 14 keluarga masing-masing Rp2 juta. “Kami juga mengalokasikan dana untuk kegiatan deteksi dini penyakit tidak menular, pembelian alat-alat penunjangnya serta memberikan honor bagi kader kesehatan desa. Dananya tak besar, tapi itu semacam apresiasi kami atas kerja keras mereka,” imbuh dia.

Di desa berpenduduk 3.686 jiwa dengan luas 686,07 hektare itu sebagain besar dana desa diarahkan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, talut, hingga saluran irigasi. Jumlahnya tak besar tapi dibagi merata ke semua dusun. “Pada 2019 ini, proyek fisik didominasi dengan pengecoran jalan ke dusun-dusun,” beber dia.

Ia menilai pemanfaatan dana desa di Keloran berhasil mengejar ketertinggalan infrastruktur dibanding desa-desa lain di Kecamatan Selogiri. Sebab, pendapatan asli Desa Keloran tergolong rendah yakni Rp60 juta per tahun. Selain itu, dana desa juga memotivasi perangkat desa dan masyarakat berpikir kreatif dan inovatif untuk mengembangkan potensi-potensi wilayah yanga ada.

“Dana Desa juga turut mengurai permasalahan-permasalahan di desa, misalnya soal sampah. Sampah bisa diolah menjadi kompos dan barang-barang kerajian bernilai ekonomi tinggi,” tutur Sumaryanto.