20 Dokter Baru Siap Layani Warga Sragen

Kepala DKK Sragen, Hargiyanto (tengah), Kamis (28/3/2019), menerima pengaduan dari keluarga pasien yang merasa ditelantarkan di salah satu puskesmas, Senin (25/3/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
29 Maret 2019 17:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen mendapat tambahan 20 dokter ahli pertama yang diharapkan bisa memaksimalkan pelayanan kesehatan di puskesmas rawat inap.

Seperti diketahui, kekurangan jumlah dokter di beberapa puskemas rawat inap di Bumi Sukowati membuat pelayanan kesehatan kurang maksimal. Pada Kamis (28/3/2019), DKK Sragen bahkan mendapat pengaduan dari keluarga pasien yang merasa tidak puas dengan pelayanan kesehatan di salah satu puskesmas.

“Ke-20 dokter tambahan itu terdiri atas 18 dokter yang diterima dari jalur CPNS. Penyerahan SK dilakukan pada Jumat [29/3/2019]. Sementara dua dokter lainnya merupakan pindahan dari daerah lain,” ucap Kepala DKK Sragen, Hargiyanto, saat ditemui Solopos.com di Tanon, Jumat.

Hargiyanto menjelaskan 20 dokter tambahan itu akan didistribusikan di sejumlah puskesmas rawat inap. Dari 21 puskesmas rawat inap di Sragen, masih ada tiga puskemas yang hanya memiliki satu dokter dan merangkap jabatan sebagai kepala puskesmas.

Tiga puskemas itu berada di Gesi, Tangen, dan Miri. Puskesmas di Gesi dan Tangen rencananya ada penambahan satu dokter, sementara khusus Puskesmas Miri akan mendapat tambahan dua dokter.

“Idealnya satu puskesmas rawat inap ada tiga dokter. Dengan begitu, waktu kerja mereka bisa diatur supaya pelayanan kesehatan lebih maksimal. Bagaimanapun peranan puskesmas rawat inap itu penting. Kalau tidak ada puskesmas rawat inap, masyarakat mau dirawat di mana hla sekarang itu semua rumah sakit nyaris penuh pasien,” ucap Hargiyanto.

Total ada 68 tenaga kesehatan yang diterima sebagai CPNS di Sragen. Selain dari dokter ahli pertama, tenaga kesehatan itu meliputi enam dokter gigi ahli pertama, dua ahli gizi, 25 perawat, tiga pranata laboratorium, sanitarian, enam apoteker ahli pertama, dan tiga penyuluh kesehatan.

“Sebetulnya yang tidak kalah penting dan perlu ditambah jumlahnya itu adalah sopir. Saat ini setiap puskesmas rawat inap baru memiliki satu sopir. Kalau harus bekerja selama 24 jam ya tentu kurang maksimal,” terang Hargiyanto.