9 Warga Kedungjeruk Karanganyar Terserang DBD

Dusun Jatimulyo RW 018 Desa Kedungjeruk, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, Jumat (29/3/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
29 Maret 2019 21:15 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sembilan warga Dusun Jatimulyo, Desa Kedungjeruk, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD) sejak enam hari terakhir. DBD menyerang anak-anak dan dewasa.

Ketua RT 002/RW 018, Dusun Jatimulyo, Sukamso, mengatakan sembilan warga yang terserang demam berdarah itu telah dirawat di rumah sakit. Warga yang terserang meliputi empat warga dari RT 001/RW 018, tiga warga dari RT 002/RW 018, dan dua warga dari RT 001/RW 019.

“Yang menderita DBD kebanyakan anak-anak, dua di antaranya dewasa. Saya sudah melapor ke kantor desa. Warga ingin lingkungan segera di-fogging supaya tidak menyebar,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu, Ketua RT 003/RW 018, Marto Karyono, menjelaskan ada tiga anggota keluarga dalam satu rumah yang terserang DBD. Hingga kemarin siang, lima orang yang dirawat di rumah sakit sudah dibawa pulang ke rumah masing-masing.

“Kejadian serupa pernah dialami, tapi sudah lama. Tahun 1975. Sejak saat itu, baru kali ini demam berdarah menyerang lagi. Warga berharap dilakukan pengasapan supaya wabah tidak menyebar,” katanya kepada Solopos.com.

Sekretaris Desa Kedungjeruk, Agung Ari Wibowo, mengatakan sudah menerima aduan warga terkait demam berdarah sejak lima hari lalu. Dia menjelaskan sudah melaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar dan sudah ada tim yang menyurvei ke lokasi.

“Warga Jatimulyo selalu melakukan kerja bakti setiap pekan. Saya mengimbau setiap warga menjaga kebersihan dan mengurangi genangan air di rumah masing-masing,” katanya kepada Solopos.com saat ditemui di kantornya.

Menurut Kepala DKK Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo, demam berdarah disebabkan virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut dapat berkembang biak dalam satu pekan.

Dia mengingatkan kepada pemerintah desa dan Puskesmas untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk. “Tim kami sudah melakukan survei ke lokasi. Saat ini sedang dilakukan analisis, apakah perlu dilakukan fogging atau tidak. Hal ini harus diikuti dengan menjaga lingkungan bersama karena jentik-jentik nyamuk tidak dapat mati dengan dilakukan fogging,” katanya kepada Solopos.com.

Dia menjelaskan sudah melakukan pantauan pasien yang dirawat di rumah sakit. Dia mengimbau masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan membersihkan tandon air secara berkala.