Tak Ingin Kendaraan Berat Lewat, Warga Pandeyan Boyolali Tutup Jalan Kampung

Pengendara motor melintas di jalan utama Desa Pandeyan, Ngemplak, Boyolali, yang rusak parah, Minggu (31/3/2019) pagi. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
31 Maret 2019 19:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Warga Desa Pandeyan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, menutup ruas-ruas jalan perkampungan di desa tersebut untuk akses kendaraan berat.

Hal itu dilakukan menyusul rusaknya infrastruktur jalan utama yang membuat pengguna jalan memilih memutar lewat jalan perkampungan. Penutupan jalan dilakukan dengan pemasangan rambu dilarang masuk dan traffic cone di sejumlah gang dan persimpangan di jalan perkampungan.

Pemasangan rambu tersebut terpantau di beberapa dukuh di Pandeyan seperti Dukuh Welar dan Dukuh Menjing. Sementara itu, pantauan Solopos.com, Minggu (31/3/2019) jalan utama di Pandeyan yang menghubungkan Desa Pandeyan, Desa Kismoyoso, Desa Giriroto, hingga Kecamatan Nogosari rusak parah.

Jalan yang berlubang dan kontur yang tidak rata membuat para pengendara motor sulit melaju. Mereka bahkan harus melanggar markah jalan guna menghindari bagian jalan yang berlubang.

Kerusakan terparah terlihat di perbatasan Pandeyan-Kismoyoso. Jalan tersebut berlubang cukup besar hingga memenuhi seluruh badan jalan. Saat hujan, air berwarna kecokelatan menggenang hingga badan jalan tidak lagi terlihat.

Sebagian besar kendaraan yang melewati jalan utama itu adalah mobil pribadi dan kendaraan berat seperti truk pengangkut pasir dan truk molen. Beberapa sepeda motor yang melintasi jalan utama memilih berbelok melewati perkampungan.

Jalan kampung yang rata-rata hanya selebar empat meter dan ditutup di bagian tengah itu masih cukup dilewati kendaraan roda dua. “Sepertinya rambu-rambu itu memang sengaja dipasang agar tidak ada mobil yang lewat sini,” ujar salah satu pengendara sepeda motor, Siti Nuraini.

Kepala Desa Pandeyan, Sukasno, membenarkan penutupan jalan kampung itu dilakukan oleh warganya. “Hal ini terkait dengan kapasitas jalan kampung yang tidak bisa dilalui kendaraan berat,” kata Kades.

Upaya penutupan jalan dilakukan oleh warga untuk menghindari kerusakan jalan di perkampungan mengingat imbasnya jika jalan tersebut rusak, perbaikan harus disokong anggaran desa. Selain itu, jalan kampung juga menjadi arena bermain anak-anak sehingga berbahaya apabila dilewati kendaraan berat.

Terkait ruas jalan utama desa yang rusak, Sukasno telah melaporkannya ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali. Dia berharap segera ada tindakan mengingat jalan tersebut bukan menjadi wewenang desa.