Fondasi Retak, Jembatan Plampang Sragen Butuh Rp4 Miliar

Pedagang sayur melintasi jembatan darurat Plampang di Dukuh Plampang, Desa Wonotolo, Gondang, Sragen, Kamis (28/3/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
01 April 2019 09:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Jembatan Plampang di Desa Wonotolo, Gondang, Sragen, yang putus lantaran diterjang banjir pada Kamis (7/3/2019) atau tiga pekan lalu akan dibangun total dengan dana APBD pada 2020.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mengalokasikan anggaran Rp4 miliar untuk pembangunan total Jembatan Wonotolo yang dibangun pada 2010 tersebut. “Jembatan Wonotolo itu tidak dibangun dengan dana tak terduga. Jembatannya akan diperlebar dengan menyesuaikan lebar jalan di sebelah utara dan selatan. Pembangunannya pada 2020 dengan anggaran Rp4 miliar,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Tatag Prabawanto, saat dihubungi Solopos.com, pekan lalu.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen, Albert Pramono Soesanto, mengaku sudah mengecek langsung jembatan sepanjang 20 meter yang putus tersebut. Kerusakan jembatan itu, kata dia, sudah dibahas dalam rapat dengan Sekda dan akan dibangun total pada 2020.

“Lebar jembatan itu sekitar 3 meter sementara jalannya sudah 4-5 meter. Jalan yang ada lebar kemudian menjadi bottleneck [menyerupai leher botol] di jembatan yang sempit. Nanti saat dibangun jembatan diperlebar agar tidak terjadi bottleneck,” ujarnya.

Jembatan yang melintang di atas anak Sungai Bengawan Solo itu menjadi penghubung Dukuh Plampang Desa Wonotolo dengan Dukuh Tlogojati Plosorejo, Gondang. Jembatan itu menjadi akses utama warga Wonotolo menuju Kota Kecamatan Gondang.

Warga Dukuh Ngledok RT 011, Desa Wonotolo, Gondang, Sugiyanti, 40, saat ditemui wartawan di jembatan itu, Kamis (28/3/2019), mengatakan setelah putus terkena banjir itu jembatan ditutup karena tidak bisa dilewati.

“Saat itu warga Ngledok, Plampang, dan Tlogojati harus memutar jalan sepanjang 9 km. Padahal banyak anak-anak Tlogojati yang bersekolah di SDN Wonotolo. Jarak ke sekolah itu kurang dari 1 km tetapi karena memutar jaraknya jadi 9 km. Akhirnya, warga Plampang berinisiatif untuk membuat jembatan darurat dari bambu,” ujarnya.

Jembatan sesek yang terbuat dari bambu itu menumpang pada badan jembatan yang tidak putus dengan badan jalan di wilayah Dukuh Tlogojati sepanjang 5 meter. Dengan pembuatan jembatan sesek itu aktivitas warga Wonotolo dan Plosorejo bisa lebih dekat terhubung, termasuk ke Kota Kecamatan Gondang.

“Jembatan itu baru selesai dibangun sepasar [lima hari] yang lalu. Yang membangun warga Plampang dan warga Tlogojati ikut menumpang. Jembatan itu juga diberi pancang dari kawat besi yang diikatkan pada pohon supaya lebih kuat menahan,” jelas Darmo Wiyono, 70, warga Dukuh Tlogojati RT 019, Plosorejo, Gondang, saat berbincang dengan Solopos.com, pekan lalu.

Dia mengatakan jembatan itu hanya bisa dilewati motor. Sedangkan mobil harus memutar lewat jalan lain. Dia berharap jembatan itu segera dibangun pemerintah.