Angin Ribut Sulit Diprediksi, Warga Klaten Diminta Antisipasi Dini

Warga melihat kondisi rumah joglo di Dukuh Karangmanis, Desa Mrisen, Kecamatan Juwiring yang ambruk setelah diterjang angin ribut, Sabtu (30 - 3) sore. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
01 April 2019 12:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – BPBD Klaten meminta warga melakukan antisipasi dini guna pengurangan risiko ancaman bencana angin ribut. Hal itu menyusul, kejadian angin ribut yang menyebabkan satu orang meninggal dunia pada Sabtu (30/3/2019) sore sulit diprediksi.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, mengatakan kejadian angin ribut sulit diprediksi. Selama ini, kejadian angin ribut di Klaten menyebar ke berbagai wilayah dan kerap terjadi bersamaan dengan musim hujan.

“Puncak musim hujan terjadi hingga akhir Maret. Namun, kami menunggu informasi resmi soal potensi hujan yang terjadi setidaknya beberapa hari ke depan,” kata Dodhy saat dihubungi Solopos.com, Minggu (31/3/2019).

Lantaran sulit diprediksi, Dodhy mewanti-wanti agar warga tetap melakukan antisipasi dini potensi kerusakan akibat angin ribut. “Yang paling memungkinkan dilakukan yakni merempeli pohon-pohon besar dan tinggi yang berpotensi menimpa rumah. Karena juga tidak tahu kapan angin ribut terjadi dan bagaimana arahnya,” ungkapnya.

Terkait angin ribut yang terjadi pada Sabtu sore, Dodhy menjelaskan terjadi di empat desa dan menyebabkan pohon tumbang melintang di jalan serta menimpa rumah. Peristiwa itu terjadi wilayah Kecamatan Juwiring yakni Desa Jaten, Trasan, Bulurejo, dan Mrisen. Satu rumah yang tertimpa pohon berada di Desa Jaten.

Selain menumbangkan pohon, angin ribut membuat satu rumah joglo ambruk di Dukuh Karangmanis, Desa Mrisen. Akibatnya, satu orang meninggal dunia dan dua orang lainnya luka-luka.

Korban meninggal dunia atas nama Sriyanto, 50. Sementara, korban luka masing-masing atas nama Suparmi, 48, dan Nugroho, 43. Ketiga warga Dukuh Karangmanis tersebut sebelumnya berteduh di bawah joglo milik tetangga mereka, Sarbini, lantaran hujan.

Ketua RT 002/RW 003, Dukuh Karangmanis, Ikhrom, menjelaskan Sriyanto rutin menjemput istrinya, Suparmi, yang bekerja sebagai pembantu di wilayah Kecamatan Delanggu. Pada Sabtu sore, kondisi cuaca hujan hingga memaksa mereka yang berboncengan sepeda kayuh berteduh di joglo. Di tempat tersebut, terdapat Nugroho yang sudah berteduh terlebih dahulu. Tiba-tiba, rumah joglo tersebut ambruk. Sriyanto yang tak sempat menyelamatkan diri tertimpa reruntuhan rumah hingga meninggal dunia.

Ikhrom menjelaskan rumah joglo tersebut berada di pekarangan milik warga setempat yang berdomisili di Jogja. Rumah joglo yang masih dalam proses pembangunan itu didirikan untuk melengkapi kawasan wisata. “Jadi kawasan tersebut milik pribadi,” katanya.

Sementara itu, Nugroho mengatakan berteduh di joglo tersebut setelah terjebak hujan saat berjalan-jalan di sawah. Ia langsung berlari keluar joglo lantaran rumah mulai miring setelah diterjang angin kencang. Namun, kepalanya terluka akibat tertimpa genteng.

“Saat itu saya langsung berlari menuju rumah. Istri Pak Sriyanto sempat memanggil-manggil saya, tetapi saya sudah tidak kuat lagi menahan sakit pada kepala,” urai dia.

Warga yang berdatangan mengangkat reruntuhan joglo untuk menyelamatkan Sriyanto. Namun, Sriyanto meninggal dunia dan langsung dibawa ke rumah duka. Sementara, Suparmi dan Nugroho dibawa ke RSU PKU Muhammadiyah Delanggu untuk menjalani rawat jalan lantaran terluka akibat tertimba reruntuhan joglo.