Ambil Motor Berknalpot Brong di Polresta Solo Harus Bawa Knalpot Asli

Kasat Sabhara Polresta Surakarta, Kompol Busroni, menunjukkan motor yang disita petugas dikarenakan menggunakan knalpot brong di Mapolresta Surakarta, Rabu (27/2/2019). (Solopos - Ichsan Kholif Rahman)
02 April 2019 15:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Kepolisian Resort Kota (Polresta) Solo menyita seratusan sepeda motor berknalpot brong saat konvoi kampanye terbuka, Minggu (31/3/2019). Seratusan kendaraan itu saat ini masih berada di Mapolresta hingga dijemput oleh pemiliknya.

Kapolresta Solo, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo, mengatakan syarat pengambilan adalah menunjukkan surat-surat kendaraan, melengkapi alat keselamatan berkendara, serta membawa dan mengganti knalpot sesuai standar.

“Selain kami sita, kami juga tilang. Silakan kendaraan diambil dengan membawa knalpot asli, dipasang, dan dibongkar di tempat. Kembalikan sesuai aslinya,” kata dia, ditemui di sela Tingalan Jumenengan S.I.S.K.S Paku Buwono ke-13, di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Senin (1/4/2019).

Ribut mengatakan jadwal kampanye terbuka yang masih dua pekan memungkinkan konvoi sepeda motor berknalpot brong masih akan ada.

Ribut berkoordinasi dengan satuan petugas (satgas) dari partai peserta pemilu untuk mengingatkan kadernya agar tidak berkonvoi. “Tim kampanye sudah kami beri pemahaman. Karena kalau melanggar akan kami tindak tegas. Enggak hanya kendaraan yang tidak sesuai standar, tapi juga pelanggaran lalu lintas lain seperti tidak memakai helm atau tidak membawa surat kelengkapan,” ucap Ribut.

Ihwal, kedatangan peserta dari luar daerah, ia mengaku tak bisa melarang. Setiap orang, imbuh Ribut, boleh menjadi peserta kampanye terbuka. “Upaya kami mengimbau agar mereka menaati aturan baik lalu lintas maupun ketertiban masyarakat. Sementara penindakan, enggak bisa semuanya ditindak, harus selektif. Tidak mungkin orang segitu banyak bisa ditilang semua. Mereka yang berpotensi melakukan provokasi dan kecelakaan yang ditindak.”

Sebelumnya, Wali Kota Solo yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melarang kadernya menggelar kampanye konvoi sepeda motor keliling kota. Apalagi sampai melepas knalpot sehingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Rudy, sapaan akrabnya, meminta polisi bertindak tegas dengan menangkap kader atau simpatisan tersebut.

Pasalnya, konvoi kendaraan berpotensi mengganggu kenyamanan masyarakat Kota Bengawan. “Kalau kader langsung tak lebokne [masukkan] Polsek kabeh (semua). Motornya juga enggak bakal kami urus. Intruksi saya kepada semua kader untuk merawat kemenangan Jokowi dengan menciptakan rasa nyaman di masyarakat. Jangan sampai terjadi kebisingan dan mengganggu lalu lintas,” kata dia, belum lama ini.