Pasar Jadoel Dongkrak Kunjungan Wisata di Sapta Tirta Pablengan Karanganyar

Warga membeli aneka jajanan tradisional saat launching Pasar Jadoel Pablengan di Sapta Tirta, Pablengan, Matesih, Karanganyar, Sabtu (30/3/2019). (Solopos - Burhan Aris Nugraha)
02 April 2019 11:30 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Objek wisata Sapta Tirta Pablengan di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, mendadak ramai didatangi orang.

Sejak Sabtu (30/3/2019) siang pukul 14.00 WIB, sepeda motor dan mobil yang parkir di halaman objek wisata meluber hingga tepi jalan dan halaman rumah warga. Minggu (31/3/2019), puluhan orang masih datang silih berganti.

Hal itu tidak biasa di objek wisata yang menawarkan tujuh mata air itu, yakni air bleng, air urus-urus, air soda, air mati, air hidup, air kasekten, dan air hangat atau kamulyan. Objek wisata itu tergolong minat khusus. Orang-orang datang ke situ membawa "misi", seperti mandi di air hangat, mengambil air bleng untuk membuat makanan, dan lain-lain. Mereka berharap berkah alam yang sudah ada sejak nenek moyang.

Sejak Sabtu pukul 09.00 WIB-18.00 WIB dan Minggu pukul 09.00 WIB-16.00 WIB, pengunjung Sapta Tirta Pablengan membeludak. Komunitas Cinta Karanganyar (Cinka) bekerja sama dengan komunitas lain dan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar menyelenggarakan Pasar Jadoel di objek wisata Sapta Tirta Pablengan. Acara itu sekaligus memperingati HUT ke-6 Cinka.

"Tujuan kami mempromosikan Sapta Tirta Pablengan. Biasanya sepi, kok eman-eman. Padahal wisata sejarah. Kami menggandeng Disparpora Karanganyar dan komunitas lain bikin Pasar Jadoel. Intinya bagaimana objek wisata religi itu ramai," kata Pendiri Cinka, Wagimin, saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu.

Pasar Jadoel menawarkan 72 jenis makanan di Karanganyar. Nasi Brabuk khas Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi; pecel gendar, dawet, oleh-oleh aneka makanan berbahan singkong jarak tawa khas Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, nasi ungu, dan lain-lain.

Spot Selfie

Pasar Jadoel juga menyiapkan spot selfie taman kincir angin di dalam Sapta Tirta Pablengan. Pengunjung dapat menikmati makanan, jajanan, dan minuman di Pasar Jadoel apabila membeli menggunakan koin kayu.

Tim Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Karanganyar menyiapkan koin kayu senilai Rp4 juta. Koin terbagi dalam pecahan Rp1.000 sebanyak 87 keping, Rp2.000 sebanyak 506 keping, Rp5.000 sebanyak 194 keping, dan Rp10.000 sebanyak 76 keping.

Pengunjung yang hendak membeli makanan menukar uang rupiah dengan uang kayu ke panitia. Solopos.com menukar uang Rp30.000 menjadi tiga keping uang kayu senilai Rp10.000.

Uang itu untuk membeli lima bungkus nasi brabuk di salah satu stan. Satu bungkus nasi brabuk Rp6.000. Tetapi, pedagang tetap melayani pembeli yang membayar menggunakan uang rupiah. Seperti dilakukan rombongan remaja yang tinggal di kampung depan objek wisata Sapta Tirta Pablengan. Mereka membeli nasi ungu lauk ayam geprek.

Pelajar SMAN Karangpandan, Diana, 16, mengaku ingin merasakan nasi ungu. Dia beralasan penasaran seperti apa nasi ungu. Satu porsi nasi ungu Rp10.000. Selain nasi ungu, dia dan teman-temannya menjajal donat dari tepung singkong jarak tawa, bubur tumpang, dan gethuk.

"Nasi merah, nasi kuning sudah biasa. Ini mencari yang antimainstream. Kali pertama menjajal [nasi ungu]. Nasinya gurih. Acaranya bagus, saya jadi tertarik masuk ke Sapta Tirta Pablengan. Ini kali pertama masuk padahal rumah saya hanya di seberang jalan. Biasanya enggak menarik karena enggak ada acara," tutur dia.

Diana berharap acara serupa rutin diselenggarakan setiap bulan. Hal senada disampaikan pengunjung Sapta Tirta Pablengan dari Tasikmadu, Saptino Heri dan Wuryani. Mereka mengaku sering datang ke Sapta Tirta Pablengan untuk mandi.

Heri kali pertama datang ke umbul tujuh macam air itu pada 1992. Dia mengapresiasi Pemkab mempromosikan wisata.

"Dimulai dari melengkapi fasilitas, menambah sarana, mempercantik objek wisata. Ini bikin acara. Biasanya ke sini mandi air hangat. Dulu sepi, sekarang bisa meriah begini. Bagus, bisa menambah pendapatan warga sekitar. Ini pas, sekaligus mempromosikan objek wisata leluhur. Acara dibikin berkala saja," ujar Heri sembari menyantap pecel gendar.

Dia datang bersama anak dan cucu. Mereka menggelar tikar di bawah pohon palem. Warga Jaten, Aris Setyawan dan Endah. Mereka datang bersama dua anak lelaki. Aris beberapa kali datang ke Pablengan, tetapi tidak seramai Sabtu dan Minggu itu.

Dia mengapresiasi cara komunitas dan Pemkab mempromosikan wisata. "Biasanya sepi. Ini cara memberi daya tarik objek wisata. Ada makanan tradisional, saya beli ketan dan dawet. Bikin acara begini berkala," tutur dia.

Sebetulnya, Cinka punya cara berbeda memperkenalkan objek wisata di Karanganyar. Terutama objek wisata baru dan belum banyak dikunjungi. Mereka keliling ke objek wisata sembari ngopi.

Lokasi objek wisata berbeda setiap dua pekan sekali. Aktivitas itu difoto lalu diunggah di media sosial. Cara promosi itu juga dilakukan di Sapta Tirta Pablengan, tetapi dengan strategi berbeda.

Disparpora Karanganyar memanfaatkan momen itu memperkenalkan seni jemparingan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar menggandeng ahli seni memanah, menyediakan alat, dan sarana prasarana.

Masyarakat umum yang ingin menjajal jemparingan cukup membayar Rp5.000. Kepala Disparpora Karanganyar, Titis Sri Jawoto, mengungkapkan menggandeng 72 pedagang dari berbagai jenis makanan.

"Makanan masa lalu yang disajikan tetapi dikemas kekinian. Ini menarik minat generasi muda yang suka sesuatu nyeleneh. Kunjungan wisata membeludak setiap akhir pekan. Ini sejujurnya tidak diprediksi bakal ramai. Ternyata wisatawan itu bakalan datang kalau tempat nyaman, sejuk, ada yang dinikmati mata maupun lidah," tutur Titis.

Menurut Titis, sejumlah pedagang harus menambah stok dagangan di sela-sela berjualan. Mereka berusaha memenuhi permintaan pembeli. Titis menyampaikan Pemkab bersama Cinka dan komunitas lain berani menyelenggarakan acara di Sapta Tirta Pablengan karena fasilitas lebih memadai.

"Sudah dibenahi tempat mandi, toilet, taman, dan lain-lain. Kami apresiasi perilaku pengunjung. Tidak ada taman rusak, sampah juga sedikit. Goal kami edukasi kaum milenial cobalah seleramu diolah lagi jangan hanya fast food. Ini kolaborasi pemerintah dengan masyarakat."